Category Archives: Proyek Sains

Science Project : Menara Banjir

Standard

Bismillaah.

Udah lama juga yah ga update blog. Kangen. Belakangan memang lagi rada sibuk ‘n banyak urusan, selain itu laptop mati. Lengkap sudah alasan untuk ga nge-blog.

Bulan lalu, anakku yang paling besar mendapat amanah dari sekolahnya untuk ikut berpartisipasi (mencalonkan diri) jadi nominasi peserta Lomba Sains. Kebetulan konsep telah di rancang sekolah, tinggal kita-nya yang bereksplorasi. Kita ditugasi untuk membuat sebuah Prototype Menara Banjir dengan cara kerja bila air telah melewati batas (limit) yang ditentukan dan menyentuh kabel Sirene yang terbuka, maka sirene di atas Menara akan berbunyi sebagai tanda Siaga bagi warga sekitar, hal ini dikarenakan air sebagai Penghantar Arus Listrik mulai bekerja ketika menyentuh kabel.

Meski akhirnya tidak masuk nominasi, tapi pengalaman membuat Proyek Sains yang ‘rada besar’, mudah-mudahan menambah motivasi anak-anak untuk terus berkarya. Semangat! ^^

menarabanjir

Advertisements

WorkShop “Pengenalan Dasar-Dasar Robotik” & Lomba Merakit Intelligence Cars untuk anak, Sabtu, 7 Juli 2012

Standard

Alhamdulillaah, sukses juga menggelar acara ini bersama para ummahat yang MasyaAllah begitu besar ghiroh mereka untuk mencerdaskan anak-anak kaum Muslimin. Meskipun sedikit terlambat karena ada beberapa kendala, namun acara yang dihadiri sekitar 50 anak ini berjalan sesuai rencana. Dimulai dari workshop Robotik yang mengundang kak Edy dari REC (Robotic Education Centre) dan mengenalkan kepada anak-anak konsep cara kerja robot secara sederhana, kemudian dilanjutkan dengan lomba yang diikuti secara antusias oleh mereka. Kemudian dilanjutkan dengan penilaian oleh para Juri (dengan kriteria kecepatan merakit, ketepatan, jalan/tidak, dll). Setelah itu pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah.

Nah, untuk lebih jelasnya bagaimana acara tersebut berlangsung, ini dia foto-foto yang berhasil di capture panitia. Foto telah di edit/di blur.

 

Bertani di Dalam Telur

Standard

Abis baca buku eksperimen Sederhana, anak-anak langsung minta praktek. Judulnya menanam pohon di dalam telur. Insya Allah bahan-bahannya mudah dicari koq.. dan anak-anak pun bisa menyaksikan pertumbuhan tanaman dari hari ke hari.

Pertama, bahan-bahan yang kita siapkan adalah :

1. Kapas

2. Air

3. Cangkang telur yang sudah kosong (di cuci bersih)

4. Beberapa butir kacang hijau

Caranya :

Masukkan kapas ke dalam telur yang sudah bersih, lalu beri beberapa tetes air hingga kapas basah. Masukkan biji kacang hijau, lalu diamkan selama beberapa hari.

Berikut hasil eksperimen anak-anak :

Day 1

 

Day 3

 

Day 6

Tumbuhan Minum

Standard

Anakku yang kedua sangat penasaran dengan sebuah percobaan sederhana di salah satu bukunya. Percobaan yang menunjukkan proses tumbuhan menyerap air pada batangnya, yang kemudian mengalir ke bunganya. Sehingga ketika cairan kita beri warna, maka bunga yang asalnya berwarna putih akan berubah menjadi warna lain sesuai dengan warna cairan yang diserapnya. Ini suntingan gambar pada buku yang dia baca :

Qadarullah, udah cari kemana-mana… ga nemu juga bunga warna putih (kayaknya sih yang di atas pakenya bunga crysant ). Akhirnya dengan terpaksa, kami menggunakan bunga melati di depan rumah… judulnya kan sama-sama putih 😀 *maksa*. Kami siapkan 2 gelas air yang kami beri pewarna hijau dan merah, lalu kami masukkan setangkai bunga melati yang sudah hampir mekar ke dalamnya…

tik tok .. tik tok… tik tok…. jam pun terus bergulir, kami pun setia menanti. Satu jam, dua jam… sambil tak henti-hentinya setor muka ngelongok bunga percobaan kami *penasaran banget sama hasilnya :p*. Hingga akhirnya penantian kami menjadi hitungan hari.. satu hari, dua hari… tapi ternyata, bunganya tak kunjung berubah warna *hadeeh*. Dan yang lebih parah lagi, satu persatu kuntum bunga melatinya pun mulai rontok, padahal belum ada sedikitpun indikasi perubahan warnanya… *parah beud*. Lelah, akhirnya kami memutuskan untuk menghentikan percobaan ini.. (sebenernya alasan utamanya karena memang bunganya udah abis dari tangkainya :p). Kecewa? sedikit. Mungkin lain kali kita harus lebih kreatif, bikin aja bunga putih dari tissue, dan sedotan yang disumpel tissue juga sebagai batangnya… mungkin saat itu ga sampe itungan beberapa jam bunganya udah langsung berubah warna.. *dongkol mode on* 😀

Mengenal Magnet

Standard

Terinspirasi dari blog Ummu Umamah, akhirnya hari-hari terakhir liburan anak-anak diisi dengan Proyek Sains tentang Magnet. Kebetulan di dekat rumah ada Sains Graha, toko yang menjual berbagai macam alat peraga untuk keperluan eksperimen sains. Ternyata….. Magnet batangan tidak semurah magnet yang untuk tempelan kulkas, xixi….. tapi, udah kadung di-skedul nih proyeknya, mau ga mau proyek harus jalan teruss >_<

Pertama, siapkan bahan utamanya dulu :

Kita bisa menyiapkan beberapa benda lain pada sebuah wadah, benda yang bentuknya kecil dan mengandung bahan pembuatan yang berbeda-beda, semisal gunting kuku yang berbahan besi, bola kecil berbahan karet, koin berbahan aluminium, sisir berbahan plastik, dsb. Lalu, siapkan 2 wadah lain, satu untuk meletakkan benda-benda yang bisa di tarik magnet, dan yang satunya untuk benda-benda yang tidak bisa ditarik magnet :

Berhubung anak-ku ada 3, maka aku bagi tugas untuk masing-masing mereka ^^. Untuk Ahmad, tugasnya menempelkan semua benda pada batang magnet, Sedangkan Aliyyah, tugasnya membuat laporan dan membuat kesimpulan dari hasil eksperimen di atas. Seperti ini bentuk laporannya :

Sedangkan untuk Ibrohim, aku buatkan laporan yang lebih sederhana. Aku buat gambar beberapa benda yang telah aku siapkan pada wadah, lalu Ibrohim akan menghubungkan gambar magnet pada benda yang bisa ditarik Magnet dengan spidol warna biru, dan warna orange untuk benda yang tidak bisa ditariknya.

Ini prosesnya, sangat simpel dan tidak memerlukan waktu lama (lebih lama proses preparasinya kayaknya :p) :

Hasil Kesimpulan dari Proyek Sains Mengenal Magnet :

Pada sessi terakhir, aku menjelaskan bahwa magnet mempunyai 2 kutub, yaitu Kutub Selatan dan Kutub Utara. Kutub yang sama akan tolak menolak sedangkan 2 Kutub yang berbeda akan tarik-menarik.

Aku coba menyatukan 2 Kutub yang sama, dan ternyata salah satu magnet berputar sendiri dan menempelkan diri pada posisi 2 kutub berbeda :

Mini Volcano, a Killing-time Project

Standard

Kenapa bisa disebut killing-time project? Itu karena belakangan ini aku jarang online di facebook, dan otomatis jatah waktu offline-ku bertambah. Imbasnya, tanganku jadi ‘gratilan’ bikin ini-itu di rumah, hehe… Belakangan ini aku memang rada-rada workaholic, sebenernya ga persis workaholic bangets sih… cuma rada greget aja pengen eksplorasi ini itu (gara-gara kebanyakan nonton dora kayaknya, well i love Dora!  😀 )

Dan Kenapa harus bikin Mini-Volcano lagi? Ceritanya gunung berapi yang pernah aku bikin dulu itu dibongkar karena papan bawahnya mau di pake nutup tangki, jadi sekarang Mini Volcano generasi pertama udah wassalam, huhu, kasian… nah, sekarang pas aku  pengen bikin letusannya lagi… rada nyesel juga kenapa dulu tuh gunung ga di bawa pindahan aja ke Bekasi :D. Makanya aku bikin lagi sekarang… ^^

Sebenernya ini gunung berapi generasi yang ketiga loh (maksudnya yang ketiga kali aku bikin), generasi kedua aku bikin pake pulp kertas dan alasnya karton. Qadarullah, setelah jadi maket gunung… eh, malah ambrol karena keberatan (bisa bayangin kan beratnya pulp kertas yang masih basah), selain itu di sini ga ada tempat buat jemurnya… di tungguin sampe seminggu, masih aja becek dan lembek tuh gunung. Setelah hampir 10 hari, gunung itu pun harus berakhir di tempat sampah >_<… rada sedih juga sih, ngebayangin proses pembuatannya yang rada ribet dan lama, mulai dari minta dibawain koran bekasnya sampe beberapa hari baru kesampaian (yang dititipin lupa melulu :p), menyobek-nyobek korannya jadi serpihan kecil dan mengikutsertakan pasukan (anak-anakku dan ibuku, xixi….), trus proses perendamannya selama sehari semalam, trus proses mengadon-nya yang cukup bikin pegel tangan (soalnya kan pulp-nya sampe se-bak penuh ^^) . Belum lagi di balur pake lem fox… dan bla-bla-bla… banyak proses yang udah dilewati, dan dari sekian banyak proses yang menyita waktu itu, ga kebayang kalo harus meng-ikhlaskan tuh gunung teronggok di tempat sampah.

Tapi jangan menyerah! Kalo gunung yang kedua gagal, kita coba lagi bikin gunung ketiga dengan cara lain… Semangat!

Yups, akhirnya aku menyempatkan diri untuk bikin gunung yang ketiga, dengan cara lain tentunya. Alhamdulillah kalo yang ini prosesnya masih bisa aku capture… jadi daripada pusing-pusing baca keluh kesahku, langsung kita cekidot proses pembuatan Gunung Berapi Generasi Ketiga…

[Percobaan] Membuat Telur Transparan

Standard

Alat Dan Bahan :

1 buah gelas
Sebutir telur ayam mentah
satu gelas cuka dapur

Langkah-langkah :

1. Masukkan telur ke dalam gelas yang berisi cuka, lalu diamkan selama beberapa jam
2. Keluarkan telur dan cuci dengan air keran
3. Dekatkan telur pada cahaya lampu, lalu perhatikan.

Apa yang terjadi?

Kamu akan melihat bahwa sekarang telur tersebut tidak lagi keras, melainkan lentur seperti karet. Dan apabila kamu dekatkan pada cahaya lampu, kamu akan melihat putih telur dan kuning telur di dalamnya melalui kulit telur tersebut.

Mengapa Demikian?

Kulit telur yang keras mengandung kapur, namun cuka mampu menghilangkan zat kapur yang ada pada kulit telur. Oleh sebab itu, kulit telur yang direndam cuka selama beberapa jam akan melunak dan yang tersisa adalah kulit arinya.