Category Archives: Baiti Jannati

Membuat Mandala dari Tissu dan Spidol

Standard

Ini nyontek dari ibu gurunya anakku. Kata beliau, ini bikin motif batik. Tapi kalau aku bilangnya bikin mandala. Mandala di ambil dari bahasa sansekerta yang berarti lingkaran, dan melambangkan jagat raya, kata wiki. Terlepas dari makna agamis, motif-motif mandala sekarang ini banyak digunakan sebagai atribut seni karena motif-motifnya yang menarik dan indah.

Langkah pertama, ambil selembar tissue segi empat lalu lipat 2x. Kemudian langsung ditotol-totolkan spidol warna-warni sampai memenuhi tissu. Baru kemudian, dibuka lipatannya. Anak-anak senang banget bikin ginian .. emaknya juga :D.

20160118_215319

20160118_215301

20160118_215451

20160118_215613

Sunatan ala Betawi

Standard

Aku, asli betawi. Maksudku bapak dan ibuku memang asli betawi. Tapi karena kami betawi ‘pinggiran’, ga semua kebudayaan Betawi kami sadur  dalam kehidupan sehari-hari. Makanya kadang-kadang, ada beberapa seremonial ala betawi kota (semisal Rawa Belong atau Kemayoran) tidak ditemukan di wilayah kami.

20151003_082318

Dengan keterbatasan itu kadang2 masih bikin aku amazed tiap kali melihat pertunjukan beberapa budaya betawi kota, alias masih norak gitu :0. Contohnya aja Tari Topeng, dari kecil ga pernah ngeliat ada aktivitas latihan Tari Topeng di daerahku sebagai simbol kelestarian budaya Betawi, kalo dangdutan mah banyak :3, makanya sampe sekarang mukaku terasa muda terus (muda = muka dangdut :p) bukan mupeng (muka topeng). Pembaca di larang jeles dengan statemenku :D. Dan rasa amazed-ku (dibaca : norak), masih lekat banget sampe sekarang >_<, ditambah dapet soulmate-nya asli jawa meski lahir dan besar di Jakarta, makin jauhlah diriku dari budaya betawi. Etapiiiii… Yang masih aku  jaga dan lestarikan dalam hatiku adalah, jerengjrengjrenggg … SEMUR JENGKOL, wkwk… tapi sejak 13 tahun lalu, budaya yang satu ini pun mulai pupus seiring prinsip hidup ku ini bersebrangan dengan suamiku yang sangat antipati terhadap jengkol. Gilingan, masa makan jengkol aja mesti maen backstreet2an sama suami sendiri *gigit kulit jengkol bewe* :v .. tapi gimana juga aku ga nekat selingkuh sama si jengkol kalo udah dikasih ultimatum sama beliau kalo mau lovey dovey sama jengkol ga boleh di dalam rumah, ya sudah aku selingkuh saja di warteg sebelah  -_-. Beliau niy ga ngerti nikmatnya ngemil kepingan jengkol sambil maen  komputer :v .. aaahh, delicious.

Trus kenapa juga tu jengkol jadi hot thread di blog akuuuuu… (aarrgghhh). Maksudku sebenarnya adalah tadinya aku pengen cerita, berbeda dengan aku, adekku menikah dengan gadis asli betawi juga,  jadi kalo mau bikin acara gampang banget kompakannya.

Kayak tadi pagi, anaknya sunatan, komplit deh mereka sepakat untuk mengusung budaya betawi untuk memeriahkan pesta khitanan anaknya. Yaeyyalaaah, masa babehnye betawi emaknya betawi, anaknya sunatan nanggapnya reog 😀 wkwk.. kalo aku kan beda, anakku 2-2nya sunatan, nanggapnya cuman ‘Buka Bersama’ itupun cuma sama keluarga, tetangga ga diundang :p. Eh, itu mah faktor ekonomi denk, bukan budaya.. hehe.. bukan juga masalah kompak ga kompak :p.

Dan parahnya, aku norak banget pas ngeliat iring2an ponakanku yang di arak, apalagi ngeliat ondel-ondel nari, serasa lagi ngeliat menara eiffel :p. Pengen banget foto di sebelahnya. Halah.

Tuh kan bener ketula, pas lagi ngebet pengen foto bareng ponakan yang pake baju ala betawi lagi nangkring di atas kuda. Karena saking  semangatnya ngedeketin kudanya pengen foto-foto, eh tu kuda jadi esmosi, trus dia nendang aku deh. Etdah, jadi kuda koq sensi amat :p aku kan bukan bola meski bulatnya sama >_<.

Tapi memang budaya-budaya gini exciting banget buat ditonton, meski ga ngerti arti dibalik seremonial tersebut. Aku sendiri ga ngerti arti di balik dance party-nya ondel-ondel selain cuma buat bikin sumringah pesta. Keep on ondel-ondel! Ga ada lo ga rame :D. Keep on juga tukang yang bawa ondel-ondel, yang pasti ga ada lo PASTI tu ondel-ondel juga ga bisa rame :D.

ini nih, ondel-ondel lagi street dance 😀

20151003_092255

Ini nih pelaminan ondel-ondel…

20151003_081425

Ini foto keponakanku yang ganteng lagi diarak keliling kampung 😀

20151003_092325

Dalam acara khas betawi, biasanya tamu akan di sambut umbul-umbul betawi, sepertinya umbul-umbul betawi ini melambangkan bunga kelapa, tapi aku ga tau juga maksudnya apa.  Kalau yang punya hajatan rajin, ujung umbul-umbul di ikatkan permen atau uang, nanti kalau acara selesai, anak-anak kecil akan rebutan mengambil umbul-umbul tersebut.

20151003_082245

Bermain Manik-manik (Beads)

Standard

Membayar janji ke Rahma, Adek kelas di kota Raha, yang pengen ngeliat aktivitas anakku bikin gantungan kunci dari manik-manik. Sebenernya manik-manik ini siap pakai, di jual 1 set dari mulai cetakannya, manik-maniknya, alas gosoknya, dan pinset plastiknya. Jadi ga sembarangan manik-manik bisa dijadikan gan-ci dengan teknik ini. Tapi waktu anakku bikin ini bareng-bareng, mereka excited banget. Sayang banget karena beadsnya ga dijual terpisah, jadi kalo beadsnya abis, ya wassalam semuanya.

Nah, tahap pertama, susun manik-manik sesuai pattern yang diminta (pattern sudah tersedia).

20150628_093748

20150628_093750

20150628_093755

20150628_091543

Setelah jadi, bisa langsung di setrika. Jangan lupa, pasang dulu alas gosoknya supaya manik-manik ga nempel.

20150628_091721

Nah, tunggu panasnya hilang, langsung bisa dipasang gantungan kuncinya. ^^

20150628_092202

20150628_092417

Membuat Kapal Dari Kardus Bekas

Standard

Yups Yups, sesuai janjiku untuk bikin tutorial kapal dari kardus bekas yang kemarin baru aja aku dan anakku bikin, namun qadarullaahu ternyata karena saking seriusnya bikin jadi ada beberapa tahapan yang terlewat untuk di foto. Sebenarnya ini tugas dari guru anakku, untuk bikin perahu dari kardus bekas bersama ayah atau ibu, sempet gontok-gontokan juga sama si bocil ttg pemilihan warna atau bentuk finishingnya, tapi emang ini aslinya tugas siapa coba >_< koq bisa emaknya ga mau ngalaaah! Arrgghh! Dan maaf juga karena ngerjainnya malam hari, jadi gambarnya ga jelas agak remang-remang plus tidak di watermark. Yeah, riskan banget di catut orang. Biarlah.

Tahap pertama, siapkan bahan-bahannya. Cukup  2 kardus bekas air mineral, cutter, gunting tajam, selotip, lem fox, kertas origami, pensil.

Buat pola untuk alas bagian bawah kapal : 20150610_142833

Kemudian, buat lah untuk sisi-sisinya 2 buah, untuk sisi kanan dan sisi kiri. 20150610_143741

Nah, kemudian tempel sisi-sisinya dengan selotip : 20150610_144919

Setelah itu, cetak karton kedua untuk bagian atas kapal, lalu gunting, kemudian tempelkan di atas bagian kapal dengan memberi 1 cm jarak dari ujung kardus. Bingung? Yaks, liat aja gambarnya yah.. hihi, ada penampakan kaki si bocil cil cil.. 😀 20150610_145624

Selotip seluruhnya sampai terbentuk bagian badan kapal. Dari kardus yang tersisa, buatlah kotak kecil, lalu tempelkan di bagian atas kapal dengan selotip. 20150610_152134

Nah, setelah itu, barulah seluruh kapal kita lapisi dengan kertas origami. Caranya, oleskan seluruh permukaan kapal dengan lem fox, kemudian di lapis kertas origami secara hati-hati.

20150610_161402

Beri Hiasan pada badan kapal, misalnya kita bikin ban penyelamatan, jendela, pintu, setir nakhoda, dll.

20150610_162846

20150610_164305

20150610_165106

20150610_191226

20150610_203414

Pola Dasar Gamis Anak

Standard

Ini permintaan temanku untuk posting pola gamis dasar anak, sebenarnya aku yang menawari untuk membuatkan : P. Berhubung jarang penjual busana muslimah yang menyediakan gamis rumahan untuk anak perempuan usia 10-16 tahun, maka rasanya perlu juga memposting pola-nya, karena barangkali ada para ibu yang ingin membuatkan sendiri gamis untuk puteri-puteri mereka. I made this sketch with GIMP 2.6.

polabajuanak

Ini untuk pola lengannya..

lengangamisanak

Yang ini hasil akhirnya…

gamiskaos

Love your Kiddos, then they’ll love you…

Standard

Kemarin, Anak sulungku mendapat tugas dari gurunya di sekolah untuk menulis profile orang yang paling dikaguminya. Ternyata, dia memilih untuk menulis tentang ibu. Sepulang sekolah, dia memperlihatkan hasil karyanya kepadaku, yang langsung terharu ketika membacanya :”(. Dan dia bilang, sebenarnya dia juga ingin menulis tentang Abi, tapi kata ibu guru, cukup 1 orang saja.  I promised her to post her letter in my blog… dan bukan hanya karena ingin mempostingnya, tapi karena memang masa-masa indah perlu didokumentasikan, supaya kelak ketika kenangan indah itu dibaca ulang, akan menimbulkan sugesti untuk berfikir positif, insyaAllah.

Ini dia isi suratnya :

 

My Mother is Creative

Ibuku sangat kreatif.

Ibuku hampir setiap hari merajut untuk membuat kunciran pesanan temannya.

Ibuku juga suka bercanda.

Setiap pagi-pagi, aku dibangunkan dengan cara digelitiki.

Tapi kalau aku tidak suka bercanda.

Kadang-kadang kalau aku digelitiki, aku teriak.

Umi-ku juga lihai dengan menyulam pita, ibuku juga rajin menjahit kain flanel, juga membuat percobaan sains.

Tapi ibuku tidak terasa capek dengan itu.

Padahal ibuku telah mengandung aku dan kedua adikku selama 1-9 bulan.

Juga sudah membesarkanku hingga sekarang.

Aku sangat menyayanginya.  —–> I love this part the most :”(

Ibuku juga termasuk orang yang berjasa bagiku.

Ibuku juga pandai memasak, ibuku juga menjual buku resep.

Ibuku suka memasak nasi goreng, Mie jawa, bubur ayam dan bubur sumsum…

 

ceritaaliyyah

 

Kalau yang ini, kartu yang dibuat anak keduaku… manisss banget… ❤

 

ahmad

 

Terkesima Buku Totto Chan ^^

Standard

Pernah denger serial buku Totto Chan?  Sebuah buku kisah nyata tentang perjalanan seorang gadis cilik yang unik dan mengajari banyak hal. Tadinya aku fikir, buku ini isinya komik biasa dengan cerita-cerita percintaan seperti komik-komik lainnya :P, makanya pas temen-temen beberapa kali ngomongin buku ini.. aku sama sekali ga tertarik bacanya.. hehe. Qadarullaah, kemarin di IBF (Islamic BookFair) ketemu buku ini dan alhamdulillah dibeli-in sama abu Aliyyah. Ternyata isinya Masya Allah menarik.

Kisahnya tentang seorang gadis cilik yang dikeluarkan dari sekolah karena dianggap ‘nakal’ dan susah di atur, hobinya memandang keluar jendela kelas dan enggan mengikuti pelajaran. Yang akhirnya, mamanya memasukkannya ke sekolah yang sesuai dengan karakter si anak, dan mampu mengarahkan anak-anak didiknya ke cara belajar yang di sukai sang anak. Menariknya buku ini, di lihat dari betapa besar rasa keingintahuan totto chan akan segala hal, di mulai dari dompetnya yang jatuh ke septic tank, dan karena saking senengnya sama tu dompet, terpaksa dia harus ‘menguras’ isi septic tank (tapi dompetnya tetep ga ketemu). Hobi-nya yang senang menyelinap melalui pagar-pagar kawat di halaman rumah orang sampe baju-bajunya robek. Ada kejadian dia loncat ke gundukan pasir (padahal adonan semen) yang akhirnya membuatnya terjebak di situ hingga sore hari sampai sang mama menemukannya. Atau kejadian ketika dia loncat ke atas kertas koran yang menutupi lubang septic tank yang mengharuskannya kejeblos di dalamnya… she’s really ‘konyol’.. hehe….

Aku baca buku ini baru setengahnya, tapi rasanya udah ga sabar berbagi keunikan buku ini di blog. Kenapa begitu besar rasa ketertarikan aku akan buku ini, mungkin karena sebagian besar kisah-kisahnya mirip kisahku waktu kecil.. meski ga se-inspiring kayak tokoh tottochan. Se-akan-akan seperti video yang bisa di rewind, jadi teringat semua pengalamanku.

Jadi pengen cerita beberapa kisah-ku juga..  yuk, mari aganwati, di simak! 😀

Dulu, sekolahku cukup jauh dari rumah… harus melewati jalan raya yang memutar, atau jalan pintas lewat persawahan yang penuh lumpur (padahal rumahku di perbatasan jakarta loh :D).  Tapi aku lebih senang berangkat sendirian lewat jalan sawah (karena ga sabar kalo harus berlama-lama di perjalanan). Setiap pagi, aku selalu menyempatkan diri untuk menengok sebuah pohon perdu berbunga indah yang ada di sisi sawah, kadang-kadang aku mengajaknya ngobrol (kalo ada orang dewasa yang melihat, pasti aku udah disangka anak ‘gila’ :P).. bertanya-tanya dalam hati apakah pohon itu mengerti apa yang aku bicarakan? atau terkadang menghirup aroma bunganya yang tidak wangi. Setiap pulang sekolah di siang hari, aku berharap bunga-nya yang indah akan menyambutku seperti ketika aku berangkat. Tapi ternyata, bunga itu selalu saja mengering (aku belum tau kalo itu adalah bunga morning glory :D).  Sedih sekali rasanya. Hampir setiap hari lewat berharap bunganya masih mekar, tapi tak pernah terlaksana. Hingga aku menyempatkan diri berlari ke sawah pada hari Ahad jam 9 pagi untuk memeriksanya, tapi ternyata bunga itu tetap saja sudah layu.  Pekan depannya, aku berangkat jam 7 pagi.. ternyata bunga itu masih mekar, aku tunggui bunga itu tapi akhirnya bosan karena aku tidak mampu melihat proses layu-nya yang ternyata lumayan lama… capek juga ternyata ^^. Bunganya mirip ini nih :

Aku juga jadi teringat ketika orang-orang dewasa mencari ikan dengan terjun ke kali kecil di  dekat persawahan, aku pun tak mau ketinggalan ikutan terjun. Ketika orang-orang dewasa itu merogohkan tangan mereka ke sela-sela bebatuan, aku pun ikut merogohkan tanganku. Betapa gembiranya aku ketika teraba sebuah benda asing bersisik yang aku kira ikan yang kucari, tapi kemudian benda itu malah menggigit kakiku, yang ternyata adalah Ular Sawah… huwaaa….. (Sejak saat itu aku kapok terjun ke tengah kali/sawah, hehe..). Atau belajar memasang bubu (sejenis alat tradisional untuk menangkap ikan) di gorong-gorong saluran tempat air deras lewat, dan ketika memeriksanya esoknya.. maka kita bisa menemukan ikan gabus, ikan mujair, ikan sepat, ikan betok, dan bahkan beberapa macam ular… ini dia bentuk bubu yang kumaksud :

Pernah juga merasakan mengejar burung puyuh yang terbang rendah di bekas persawahan, mengobrak abrik setiap rumput berharap mendapatkan 1 butir telurnya, atau menyusuri lubang-lubang yang biasa di lalui bebek di tengah rumput-rumput setinggi 1 meter untuk mencari telurnya yang kececer. Asli seru banget meski tangan terasa perih tergores pinggiran daun rumput yang tajam.

Dan hari hujan adalah hari yang sangat di tunggu-tunggu, ketika air mengalir deras di sela-sela saluran air di persawahan, dan dengan sigap, aku, adik-adikku dan teman-teman yang lain berlomba membuat bendungan dari gumpalan lumpur yang di tumpuk, dan pulang ke rumah disambut kemarahan ibuku karena baju kami yang belepotan lumpur hingga ke muka.  Masih ingatkah engkau wahai ibu? Pasti beliau amat jengkel kepadaku saat kecilku… apalagi di saat aku membawa pulang rumput-rumput (yang menurutku aneh), mengeringkannya, memasangkan di dalam gelas, memandanginya setiap hari sambil bertanya-tanya.. sampai kapan rumput itu bertahan agar tidak membusuk. Atau ketika aku membawa pulang “hasil penggalian” ku di tengah sawah berupa cangkang-cangkang keong, cangkang kerang hijau yang saat itu masih banyak populasinya di dasar kali, memajangnya di kamar atau memasukkannya di stopless, merasa bahagia karena telah menemukan “harta karun” yang terpendam, hihi….. Atau membawa pulang beberapa kepik berwarna-warni, sambil memasukkannya ke dalam wadah beserta daun kecubung, berharap bisa memeliharanya, melihatnya berkembang biak, dan bertanya-tanya, kenapa setiap kepik memiliki warna yang berbeda? (aku berharap saat itu memiliki buku ensiklopedia :D). Atau bahkan beliau pasti akan marah, bila tau kalau aku dulu pernah memasukkan sebuah wadah berisi anak cacing dan tanah lembab ke kolong tempat tidur, mendiamkannya selama beberapa minggu, yang ketika aku periksa.. ternyata cacing itu sudah sebesar ibu jariku… whoaaa :O.

Rasa seru yang tak terlupakan ketika aku sering mengejar-ngejar kadal, menangkapnya, menunjukkannya ke teman-temanku, merasa se-akan-akan aku anak yang paling berani, hehe…. dan kemudian hobi itu terhenti karena se-ekor kadal buang air di tanganku (eakss, jijik! :p) atau malah mengejar-ngejar katak/kodok, berusaha menciumnya supaya kodok itu berubah jadi pangeran tampan yang bersedia menikahiku (huahaha, itu akibat kena racun dongeng-an tak bermanfaat dari anak-anak komplek) dan hobi ini pun terhenti ketika aku hendak menangkap katak hijau di belakang rumah, ternyata katak itu memiliki mata merah menyala yang sedang menatapku.  Takuutt… dan ternyata, ini dia penampakan katak itu :

Masih terasa serunya hingga sekarang, ketika aku dan kawan-kawanku memanjat pohon jambu mete yang batangnya 2x lebih besar dari ukuran badan kami, memetik dedaunannya dan menyulapnya menjadi baju, mahkota, dll, berperan bak ksatria yang sedang berperang  sambil menunggang kerbau yang biasa ditambatkan di bawah pohonnya, sedangkan mata kami sibuk mencari kutu-kutu di badan si kerbau ^^. Atau memetik bunga-bunga rumput (yang ternyata dandelion), merangkainya menjadi hiasan rambut yang indah. Masya Allah…

Dan memang, proses itu tidak berhenti begitu saja… masih terasa manis, ketika aku menginjak usia SMP, kemudian adikku dan kawan-kawannya mengajakku naik kereta pengangkut batu bara dari stasiun jombang ke pelabuhan merak kemudian pulang di tengah malam dengan wajah hitam cemong dan disambut kemarahan saudara-saudara ibuku (karena waktu itu aku menginap di tempat nenekku). Padahal, ketika kami naik kereta batubara yang kebetulan lewat di tengah pemukiman warga, tak jarang kami terkena lemparan sampah warga yang membuang sampah di sekitar rel atau kena timpukan kerikil anak-anak yang hobi melempari kereta api yang lewat (haddeeh, indonesiakuuu!), atau kami pun merasa tegang dan tiarap di antara batubara karena di beberapa stasiun ada pemeriksaan ‘penumpang gelap’ oleh para kru kereta api :p. Belum lagi kereta yang melewati hutan-hutan, persawahan yang gelap gulita hingga kami harus selalu memejamkan mata kami dan menyembunyikan wajah kami di tumpukan batu bara karena khawatir melihat ‘penampakan’…

Membaca Totto Chan benar-benar membuat aku menyadari, betapa indahnya masa-masa kecilku. Sahabatku, menganggap aku beruntung punya kisah-kisah unik seperti totto chan… padahal cap “anak kampung” sering bikin aku ga percaya diri… haddeh, memang benar istilah ” Apabila kau berharap dapat mengikuti  semua pendapat orang, maka ketahuilah, sesungguhnya engkau telah gila” ^^