Koleksi Terbaru Tas Rajutan Ummu Aliyyah ^_^

Sudah hampir 2 tahun aku belajar merajut, meski masih sangat terbata-bata dan perlu diperbaiki sana-sini karena memang belajarnya otodidak cuma lewat yutup. Alhamdulillaah sampai saat ini belum menyerah ^_^ apalagi semakin ke sini semakin tahu bahwa merajut itu banyak patternnya, banyak modelnya dan mudah divariasikan. Dan satu lagi, setelah mulai terjangkiti ‘penyakit’ merajut ini, aku juga semakin hobi berburu benang… setiap ada jenis benang baru, aku semakin excited untuk merajut *hadeh* ..

Menurutku merajut itu kegiatan yang cukup menyenangkan, secara ga perlu banyak bergerak, bisa dikerjakan sambil duduk, tiduran. lesehan. Peralatan yang dibutuhkan juga ga banyak, cuma benang dan hakpen aja, jadi mudah dibawa kemana-mana, mudah dikerjakan dimana-mana, di bis, di kereta, di dapur, di sekolah, di angkot, di atas motor (yang lagi parkir yaah ^_^) .. dan satu lagi, hasilnya bisa dijual karena banyak peminatnya. Yippie…

TasRajut02TasRajut08

TasRajut10 TasRajut11 TasRajut12  TasRajut14 TasRajut15 TasRajut16 TasRajut17 TasRajut18 TasRajut19 TasRajut20 TasRajut21 TasRajut01

Bunga Dari Duck Tape (Lakban)

Ada yang tahu Duck tape? Sejenis lakban yang biasanya lebih tebal dari selotip biasa. Siapa yang menyangka lakban bisa juga dibentuk sebagai hiasan indah di ujung pensil. Belum lama ini pas lagi youtubing, ketemu tutorial membuat bunga dari lakban, di praktekkan dan tidak sampai 5 menit langsung jadi. Ini dia penampakannya… its cute and lovely.. <3

Bungalakban

Menjadi Guru atau…

Siapa yang tidak tahu dengan istilah Guru, seorang manusia yang bekerja tanpa pamrih untuk mengajarkan seorang anak segala hal yang mereka belum ketahui. Sebuah profesi mulia yang tidak semua orang bisa meraih keutamaannya. Ketika seorang guru mengajarkan satu kebaikan pada satu orang anak, dan anak itu melakukan kebaikan tersebut sepanjang hidupnya, maka sepanjang itu pula-lah pahala sang guru mengalir.

Seorang guru di sekolah anakku pernah bercerita bahwa dari kecil cita-citanya adalah menjadi guru, maka tak heran hari ini beliau menjadi seorang guru yang  berdedikasi (dalam pandangan mata saya) dan mudah-mudahan segala kebaikan yang diajarkan kepada anak-anak menjadi ladang pahala baginya. Menjadi seorang guru bukanlah sebuah profesi yang mudah (dalam pandangan mata saya -lagi), perlu sebuah itikad kuat dan kecintaan di dalamnya. Saya merasa sangat kagum dengan para guru yang begitu mencintai dunia anak-anak dan dunia pendidikan.

Kenapa saya tiba-tiba berbicara tentang guru dan dunia pendidikan, padahal saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang sehari-harinya hanya sibuk berinteraksi dengan para tukang sayur dan tukang ayam langganan, tak lain karena sejak setengah tahun lalu, saya mendapat keberuntungan untuk naik level menjadi bagian dari mereka. Miris memang, secara saya menilai bahwa diri saya masih sangat tidak layak untuk menjadi seorang tenaga pengajar dan mendapat kepercayaan untuk mendidik anak-anak yang terlihat masih sangat polos tersebut. Karena ketika saya berkaca pada diri saya sendiri, alangkah kasihan anak-anak itu menjadikan saya sebagai bagian dari pembentuk karakter dalam kehidupan mereka, yang bahkan anak-anak saya sendiri pun meragukan kemampuan saya.

Tadinya saya fikir, seseorang menjadi guru itu adalah hal yang mudah, cukup dengan modal cinta pada dunia anak-anak. Tadinya saya fikir, dengan niat berbagi ilmu pada orang lain sebagai penunjang kriteria menjadi seorang guru telah cukup saya penuhi, maka dengan gegabah saya menerima tawaran itu.

Hari ini saya berfikir ulang… bahwa ketika kita memilih sebuah jalan, maka kita harus membulatkan tekad kita dan berusaha sekeras mungkin untuk menjadi bagian dari jalan tersebut. Tapi yang saya temukan dalam diri saya adalah, ada sebagian kecil dari diri ini yang masih enggan untuk terikat pada sesuatu di luar keluarga. Ada sebagian kecil dalam diri saya tidak suka saya menyibukkan diri pada sesuatu yang masih belum ‘bulat’ di dalam hati.

Well, untuk para guru… berbanggalah dengan pekerjaan mulia kalian, karena tidak semua orang bisa menjadi pendidik. Dan tetaplah memiliki semangat dalam mendidik anak-anak kami… Salam cinta kepada kalian dari kami para wali murid ^_^

Trip Ke Pulau Pramuka

Udah lama banget rasanya engga jalan-jalan bareng keluarga, tahun lalu sempet ke Semarang – Jogja – Kebumen – Semarang – Jakarta, tapi itu pun dalam rangka mudik ke keluarga suami :D. Sempet juga ke Pelabuhan Ratu, tapi ada kejadian kurang enak karena adik ipar dan temannya hampir terseret ombak, Alhamdulillaahnya semua selamat.

Rutinitas seorang ibu dari anak-anak yang masih berusia TK dan SD memang sedikit sibuk, dari mengantar anak-anak ke sekolah, ke pasar, jemput si adik yang masih TK, masak makan siang dan mengantarnya ke kedua kakak, de el el, susah rasanya mengaktualisasikan jiwa petualang yang sering kali merasa terpanggil oleh Alam, hehe… sebenarnya rada jeles juga sama laki aye, secara kegiatan di luarnya banyak… kemping ke Papandayan, ke Semeru, ke Pangrango.. bininye di rumah gigit jari sambil ngulek sambel dan memandangi penggorengan.. :D :D. Dikira cuma bapak-bapak doang kali yah yang butuh refreshing… :p.

Tapi bukan Lilis Suryanih namanya kalo sampai ga punya seribu cara ke Gang Kelinci :D … we have a lot of fun activities to do <- salah satu keuntungan karena punya banyak hobi, meskipun kadang bikin ga fokus >_<. Cuma modal 1 gulung benang dan 1 hakpen, kita bisa menikmati hidup dengan indahnya merajut selama seharian. Atau mungkin sambil ngelipet bungkus kopi hasil donasi orang-orang :D. Atau sulam pita. Atau ngoprek-ngoprek aplikasi. Update Blog – kayak sekarang. Atau nyoba-nyoba resep. Atau menikmati naik KRL menuju pasar senen, tenabang atau pasar pagi.. meski ga belanja karena memang ga hobi belanja :p. Atau sekedar coffee morning bareng temen-temen di recommended breakfast spot.. Yeah, intinya adalah, tak perlu ada kata MATI GAYA di kamus kita :p.

Nah, kebetulan, beberapa pekan lalu salah satu ibu wali murid di sekolah anakku menawarkan trip ke Pulau Pramuka, salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Sebenarnya ini acara kelas anak laki-laki aja, makanya berasa dapet Jackpot pas kita sekeluarga dibolehin ikut. Sekolah anakku adalah sekolah Islam bermanhaj Salaf yang kelas laki-laki dan kelas perempuannya di pisah, cekidot at http://alhilal.or.id. Makanya dimaklumi aja kalau hampir semua peserta yang ikut yaa anak laki-laki.

Sabtu, 14 Juni 2014 … setelah Sholat Shubuh, rombongan kami langsung berangkat ke Muara Angke, karena kapal yang kami tumpangi biasanya berangkat sekitar jam 6-7 pagi. Ternyata di Muara Angke sudah mulai padat kendaraan, dan mulai banyak orang lalu lalang yang dilihat dari penampilannya punya tujuan yang sama, yaitu ke Pulau Seribu. Rada malu ati juga update di blog, padahal cuma ke Pulau Pramuka doang… secara ratusan bahkan ribuan penduduk sekitar biasa bolak-balik tiap hari antara Muara Angke dan Pulau Pramuka, dan mereka ga pernah sekalipun update blog, hehe… (salah siapa coba? :p). Atau laki aye aja yang udah biasa pergi kemane2 yang lebih jauh lagi dari Pulau Pramuka juga biasa aje. Tapi yaa bukan salahku juga kalo aku punya bakat norak bin narsis lebih gede dibandingin orang lain, Dan bukan salahku juga kalo aku merasa harus selalu menghargai setiap bakat yang aku miliki.. bukankah bakat merupakan anugerah? wkwk… Tadinya pengen juga ngaku lagi jalan-jalan ke Maldives, tapi hati nurani rasanya tak sanggup untuk melakukan pembohongan publik :p.

Tapi ishh… meskipun sudah pernah ke sini sebelumnya waktu Trip ke Pulau Tidung, kondisi Muara Angke masih juga bikin aku ga nyaman, secara aku harus mengangkat gamis 3 layer hitam ku yang cantik, ihiyy >_< supaya ga ngepel-in jalannya yang tergenang air kotor. Yaiiyy… ada bocah (yang ngakunya) petualang yang takut bajunya kena noda lumpur :D.

20140614_070119

 

 

20140614_070126

 

 

Udah gitu antriannya manteppp banget, ga bisa di sela.. secara kena senggol dikit aja bisa nyebur ke laut *ngantrinya kan di atas geladak kapal* :p.

 

20140614_070556

 

Tapi Alhamdulillaah, cuaca hari itu sejuk banget dan gelombang laut pun tenang. Dan perjalanan di atas kapal selama 3 jam itu sukses aku lalui dengan lancar, sempet juga menyesal kenapa ga bawa benang dan hakpen, tapi fikiran-fikiran itu kutepis dan cukup bersyukur karena bisa main onet sampe 5 level, abis itu tidur dengan indahnya :D.

Alhamdulillaah, sampai juga di Dermaga Pulau Pramuka. Tak kusangka, sudah banyak orang yang bersiap menyambut kedatangan kami dengan mata berbinar.. Serasa anggota JKT48 kulambaikan tanganku dan kugelengkan kepalaku setiap kali mereka menyapaku.. “Gorengan.. gorengan… aqua.. aqua.. mijon.. mijon..”. Benar-benar penduduk yang ramah :D. Dan pemandangannya pun benar-benar keren, masya Allaah. Yang kalo kata anakku, kalau di hutan kita bisa bilang ThinkGreen, tapi kalo di sini ThinkBlue, saking lautan biru terhampar di sekeliling kami.

20140614_103446

 

Sepanjang jalan menuju penginapan, kusandarkan kepala di bahu suamiku sambil berbisik… “Bang, nanti malam enak banget kayaknya nih kalo kita jalan-jalan berdua sambil memandang bulan menyusuri pantai” *winkwink* kukedipkan mataku genit -huek- suamiku cuma bisa tersenyum :D. Dan benar-benar terjadi, malam-malam kami berdua menyusuri pantai … ke dermaga-dermaga, sambil bawa senter, ngos-ngosan nyariin krucil-krucil yang kabur pengen mancing malem-malem di pinggir dermaga.. takut mereka pada ilang.. haha…. >_<

 

20140614_114721

 

20140614_120300

 

Sesampainya di penginapan yang terletak di sisi pantai.. anak-anak langsung bereksplorasi, mencari kepiting, mencari ikan dan basah-basahan. Kemudian setelah Sholat Dzuhur dan makan siang, kami pun bersiap untuk snorkeling di Pulau Air dan Pulau Semak Daun.

20140614_124843

 

20140614_124956

 

Asli keren banget. Di Pulau Air ini banyak banget Bintang Laut, dan anak-anak pun menemukan banyak sekali cangkangnya. Yang berwarna hitam adalah Cangkang Bintang Laut yang masih hidup, sedangkan yang berwarna putih adalah cangkang sisa setelah mereka ‘menetas’… mungkin fungsinya seperti cangkang telur ayam. Sedangkan di Pulau Semak Daun, dengan pasir pantainya yang putih dan suasananya yang masih asri, cocok kayaknya buat kemping, di sana ada beberapa orang juga yang buka tenda, ada banana boatnya juga.

20140614_135456

 

20140614_135520

 

121212

 

20140614_142458

 

Setelah meninggalkan Pulau Semak Daun, kami beralih ke Lokasi penangkaran Hiu dan ikan Kuwe. Setelah itu kami kembali ke penginapan untuk bersiap-siap Sholat Maghrib dan makan malam.

IMG-20140615-WA0025

 

IMG-20140615-WA0005

 

11111

 

Esok paginya, pada acara bebas sebelum berkunjung ke tempat penangkaran penyu, anak-anak memutuskan untuk bermain kayak. Setelah melihat penyu, Kemudian mereka pun berangkat menuju lokasi banana boat dan doughnut boat. Qadarullaah, ada badai kecil dan guyuran hujan yang mengharuskan kami berhenti bermain banana boat, padahal belum semua anak-anak mencobanya.

20140615_065443

20140615_070240

 

Setelah berbilas, sholat dan makan siang, kami semua harus bersiap-siap pulang untuk kembali ke Jakarta.
Kapal tiba tepat waktu, sekitar jam 1 siang. Namun karena cuaca hujan dan gelombang laut tinggi, sebagian besar rombongan kami mabuk laut dan muntah di kapal… secara mubazir sudah jauh-jauh ke pulau pramuka, dan capek-capek tapi engga dimuntahin tuh kapal… kalo kata orang dulu, muntah itu tanda betah, hehe :p *ngeles*. Alhamdulillaah, akhirnya kami pun tiba dengan selamat. <3 <3

:: Tak Ada Judul ::

metromini

 

:: Tak Ada Judul ::

Bila harus memilih, pasti rasanya lebih nyaman mengajak anak ke suatu tempat dengan kendaraan pribadi, bisa duduk santai dan anak bisa tidur karena terbuai sejuknya AC. 
Bila harus memilih, pasti rasanya lebih menyenangkan membawa anak ke pusat perbelanjaan, mengajak bermain di game center, lalu makan di restoran. 
Bila harus memilih, pasti rasanya lebih nikmat mengajak anak ke tempat rekreasi yang sejuk, menginap di villa, menghirup udara segar atau menikmati pemandangan.
Tapi hari ini aku memilih mengajak anak gadisku yang sedang beranjak remaja ke rumah neneknya selama long weekend, karena kebetulan anak laki-lakiku dan suamiku sedang pergi kemping ke Papandayan. Karena aku termasuk biskotaholic, alias hobi berat naik angkot, maka aku pun mengajak anakku menikmati pemandangan ibukota dengan naik biskota. Biasanya, bila ke rumah nenek, aku memilih bus yang lewat tol dalam kota, turun di Slipi Jaya, kemudian naik Kopaja. Karena waktu menjelang malam hari, kali ini aku memutuskan untuk lewat jalur yang agak ramai dengan alasan keamanan.
Transit di Terminal Blok M di Jakarta Selatan, maka untuk menuju destinasi selanjutnya, kami harus naik metromini, biskota yang berwarna oranye, berbangku plastik, yang bahkan tidak memiliki speedometer di dalamnya.
Sudah lebih belasan tahun aku tidak pernah melewati tempat ini di malam hari. Sedikit menakutkan. Sepertinya kenyamanannya sudah mulai pudar dan keramahannya sudah mulai terkikis seiring dengan luruhnya cat pada halte-haltenya yang sudah penuh berkarat. Suasana yang suram karena temaram lampu jalan bercampur dengan derum suara mesin biskota yang menggelegar, bersaing dengan dentuman musik dari lapak-lapak toko, ditambah dengan wajah-wajah tak bersahabat yang hilir mudik di sekitar terminal, semakin terasa panjang waktu penantian.

Kualihkan pandangan mataku ke sekitar terminal, yang dulunya pernah jadi terminal favoritku karena lebih tertib dan bersih di bandingkan terminal-terminal lain di Jakarta. Di pojok kiri sebelum pintu masuk, sudah mulai banyak pedagang kaki lima membuka lapak, terlihat serabutan. Ada yang dagang kaus oblong, sepatu, dll. Beberapa meter dari situ, terdapat banyak kumpulan pengamen sedang nongkrong dan bercanda, dengan kondisi seadanya, dari mulai yang berusia dewasa hingga usia anak-anak. Dengan kondisi seadanya kusebutkan, karena melihat betapa lusuh dan menakutkannya mereka, meski dari wajah-wajah mereka terpancar kebahagiaan penuh kebebasan. Kebebasan yang dulu ketika ABG pernah aku impikan, namun sekarang membuat aku ngeri karena doktrin kebebasan itu menimbulkan rasa tak aman bagi orang lain, khususnya bagi seorang wanita yang bergelar ibu seperti aku, yang memiliki anak-anak dan menginginkan anak-anaknya memiliki masa depan yang indah dan hidup dalam harmoni, jauh dari kata kebebasan yang ambigu.

Terlihat rasa lelah dan khawatir di wajah anakku, karena hampir sejam metromini masih saja setia menunggu penumpang. Sedangkan belasan pengamen sudah berkali-kali hilir mudik bergantian mengamen di bis yang kami naiki. Belasan kali bukanlah kalimat sarkastik, tapi karena memang kenyataannya seperti itu. Sepertinya mereka tak membiarkan pikiran-pikiran kami bereksplorasi sepanjang penantian karena mereka terus saja menjejali kami dengan lagu-lagu yang bahkan kami sendiri tak tahu judul dan penyanyinya. Atau barangkali karena memang populasi mereka yang semakin meningkat sedangkan jumlah armada bis tak jua bertambah, sehingga mereka tak punya lapak lain untuk singgah.

Aku beritahu anakku, dalam kondisi-kondisi seperti ini, hendaknya kita harus senantiasa bersikap tenang dan jangan pasang wajah khawatir, karena akan membuka peluang kejahatan. Duduklah di kursi dekat pak sopir, dan jangan menonjolkan barang-barang mewah semisal hape atau isi dompet. Dan tentu saja selalu berdzikir kepada Allaah. Tapi, ibu mana yang akan tega melepas anak gadisnya melewati saat-saat seperti ini lagi, dalam kondisi sendirian, di kelilingi wajah-wajah menakutkan, di malam hari pula.

Alhamdulillaah, akhirnya metromini pun melaju. Ditemani angin malam yang sejuk, dihiasi dengan lampu kendaraan yang menerangi kemacetan ibukota, bis kami pun berjalan perlahan menyusuri jalan.

Kulempar pandanganku kembali keluar jendela, kini kami sedang melewati jalan-jalan yang nyaman dengan toko-toko indah berseliweran, petugas keamanan yang siap sedia berjaga, terlihat banyak mobil mewah yang menepi di pinggir jalan, sungguh pemandangan yang kontras dengan apa yang baru saja kami hadapi tadi. Aku hanya bisa mendesah panjang, alangkah sedihnya karena ternyata kenyamanan hanya milik orang-orang yang mampu membelinya dengan uang mereka. Maka tak perlu heran apabila ada orang yang bersedia banting tulang siang malam demi sebuah kenyamanan. Tak perlu juga heran apabila banyak orang bekerja seumur hidup mereka hanya karena sebuah pengakuan bahwa mereka bisa survive dalam kerasnya kehidupan.

Hanya dalam hati aku berbisik, semoga saja anakku mengerti bahwa dalam kehidupan di dunia ini, begitu banyak hal-hal di luar jangkauan pemikiran kita. Masih banyak manusia yang tidak seberuntung kita dan hendaknya kita selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita selama ini. Dan semoga saja anakku faham, bahwa kemewahan hanyalah komoditi manusia untuk berbangga diri yang tidak sadar bahwa semua itu tak akan bisa di bawa mati. Maka hendaklah kita harus selalu bersikap pertengahan, bila diberi kemudahan tak perlu berlebihan dan perbanyak amal. Dan apabila diberi ujian hidup, tak boleh banyak mengeluh.

* pulang mengantar anakku, aku naik bus yang sama, dan menemukan seorang anak kecil usia 2 tahun yang bahkan belum lancar bicara sedang mengamen bersama kakaknya. Tanpa rasa ngeri naik turun biskota yang sedang melaju. Siapa yang bisa disalahkan? Orangtuanya? Pemerintah? Atau diri kita sendiri sebagai bagian dari masyarakat yang apatis, yang hanya bisa memandangi tanpa mau mengulurkan tangan? Atau malah mereka yang memiliki hati yang baik yang senantiasa mengulurkan tangan memberikan uang atas dasar kasihan sehingga membuat mereka ketagihan? Siapa yang bisa disalahkan? well, inilah keindahan ibukota kita dengan segala pernak-perniknya, The Jekardah.

** tidak bermaksud menyinggung siapapun **

#jakarta #catatanperjalanan #terminal #metromini #biskota

Daur Ulang For Charity

Baiklah, hari ini kita akan membahas latar belakang judul thread ini. Kenapa bisa terbesit daur ulang untuk charity, yang kalo di IG (Instagram) biasa aku kasih hashtag #savetheearthlovethehuman .. Berawal dari hobi ibuku minum kopi, lalu aku minta ibuku mengumpulkan bungkus kopinya karena sayang melihatnya terbuang percuma. Tadinya aku berencana untuk bikin jas hujan, qadarullaah ga ada waktu sampai-sampai bungkus kopinya numpuk di pojokan. Akhirnya coba cari tutorial untuk ‘mengakali’ supaya bungkus kopi itu bisa bermanfaat, dan ternyata ada tutorial untuk bikin tas dari kertas bekas. Aku berinisiatif untuk menggantikan kertas itu dengan bungkus kopi. Well, jadi juga… meski untuk bikin 1 tas ini butuh 500 lembar bungkus kopi, dan butuh waktu 1 pekan untuk pengerjaannya >_<… Alhamdulillaah, ternyata ibuku senang dapet kiriman tas dari anaknya…

bungkuskopi4

 

Sejak itu, ibuku semakin rajin mengirim bungkus kopinya. Dan tetangga-tetangga yang melihat aku bikin tas dari bungkus kopi, mulai berinisiatif mengumpulkan bungkus2 kopi juga dan mengirimnya padaku. Karena banyaknya sumbangan, aku memutuskan tas yang dibuat dari hasil sumbangan teman-teman akan kami  jual dan hasil penjualannya akan didonasikan untuk korban bencana Alam dan Fakir miskin. Ayooo, siapa yang ingin ikutan menyumbangkan bungkus kopinya? contact me, ok? ^^

Kemudian, sharing dengan beberapa teman, lalu mereka bilang… bahwa tas yang aku bikin berbeda teknik pembuatannya dengan yang biasanya. Jadilah, mereka tunjukkan tas buatan orang, yang sepertinya lebih solid, berbeda dengan tas bikinanku yang lebih ringkih. Aku ngubek-ngubek lagi youtube untuk cari tutorialnya, ketemu beberapa tutorial, indonesia punya.. cuma ga maksimal karena prosesnya kurang detil. Alhamdulillaah, ada contoh tas real-nya yang bisa aku plagiat, dan hingga sekarang aku lebih pilih teknik ini. Ini beberapa hasilnya…

 

bungkuskopi

bungkuskopi3

bungkuskopi2

bungkuskopi1

 

10171148_10203464161875358_3217536739115571075_n

 

Setelah aku posting beberapa kali di dunia maya, baik melalui Facebook, Twitter atau Instagram tentang Daur Ulang for Charity ini .. Alhamdulillaah, ada juga yang mengirim bungkus2 kopi, bungkus snack, bungkus minuman instant, dll … Terimakasih yang sebesar2nya untuk yang telah menyumbang kepada kami; Ibuku, Bu Mar,  mbak Sikta Malasari, mba Puji Umm Harits, Umm Razan beserta anak2nya, mba Sri Umm Alfi, mba Ayesh Umm Abdillaah, mba yang dagang es Bubble, dll… Jazakunallaahu khayran ^^