Category Archives: Jalan-Jalan

Trip ke Pantai Sawarna, Banten

Standard

Mungkin sudah banyak yang tahu pantai Sawarna, meski letaknya sedikit ‘nyempil’ dari peradaban, namun pengunjungnya selalu padat di akhir pekan. Termasuk salah satu pantai yang menghias selatan pulau Jawa dan masuk pemerintahan Banten, pantai ini kayaknya cukup banyak dikenal manusia. Perjalanan menuju ke pantai ini cuma 1.5 jam dari Pelabuhan Ratu, tapi 5 jam ke arah Serang. Kami pilih jalur ke Pelabuhan Ratu dulu lewat Sukabumi untuk ke sana, karena jarak tempuhnya lebih dekat, dibandingkan dengan jalur Jakarta – Serang.

Liburan kali ini kami memutuskan untuk melakukan trip ke Sawarna. Konvoi 6 kendaraan dari Cileungsi, kami berangkat dari jam 11 malam. Memilih malam hari untuk menghindari kemacetan dan padatnya lalu lalang kendaraan, dan memang jalanan terasa sepi banget. Para biker yang biasa touring menggunakan roda dua pun lebih memilih meminggirkan kendaraannya dan menikmati istirahat malam yang tenang di beberapa warung pinggir jalan. Jalanan terasa lebih senyap tanpa mereka. Wajar aja karena dilihat dari jalur yang kami lewati kayaknya bahaya banget kalo mata sopirnya ga on 75 watt secara kanan kiri lembah dan jurang, plus ga ada lampu penerangan, riskan buat pengendara yang nekat jalan. Kami pun sempat beberapa kali berhenti sejenak supaya sopir2 bisa memejamkan mata barang sedetik.

Alhamdulillaah sekitar waktu shubuh kami tiba di Pelabuhan Ratu dan melaksanakan sholat shubuh di masjid setempat. Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Pantai Sawarna. Sebelum tiba di tkp, karena kebetulan sudah masuk jam sarapan pagi, kami mampir di sebuah rest area yang pemandangannya masyaaAllaah keren banget, terlihat lautan yang dikelilingi gunung tinggi, dan suasana yang sejuk meski ga sedingin puncak pas. Menyambut matahari pagi ditemani obrolan teman-teman seperjalanan dan segelas teh manis hangat merupakan sebuah nikmat yang luar biasa. Sungguh Allah Ta’ala telah menciptakan dunia ini begitu indah untuk manusia.

20160206_063209

Sejam kemudian kami tiba di Pantai Sawarna. Karena sepertinya habis diguyur hujan, jalanan sedikit becek dan tidak nyaman. Dan kebetulan jembatan penghubung kampung juga sedang diperbaiki, jadilah kami harus menyeberang sungai menggunakan getek yang dioperasikan oleh warga sekitar.

20160206_081230

20160206_082420

Warga sini luar biasa ramahnya. Tak segan-segan berinteraksi dengan para wisatawan dan mengenalkan keindahan tempat parisiwisata daerahnya. Tampak dari raut-raut wajah mereka kegembiraan karena tempat mereka dijadikan obyek wisata dan banyak dikunjungi wisatawan. Sempat mengobrol dengan mereka dan berbagi kisah, mereka bersyukur dengan adanya pantai sawarna membuat pendapatan mereka bertambah dan persaudaraan mereka antar 2 kampung semakin erat. Apalagi banyak wisatawan yang homestay di sebagian rumah mereka.

20160206_133032

Obyek wisata di sini ada 7 destinasi. Bisa ditempuh seharian dengan menyewa ojek 100ribu per hari dan puas keliling sesuka hati. Yang paling terkenal adalah Pantai Sawarna, yang memiliki 2 buah karang tinggi sebagai ikonnya, pas banget dikunjungi sore hari bagi yang ingin melihat keindahan sunset. Kemudian air terjun Legon Pari yaitu air terjun yang terbentuk dari pemecah ombak alami, kata penduduk sini, cocoknya dikunjungi pagi hari setelah sholat subuh karena sunrisenya yang indah. Sebenarnya bukan air terjun seperti yang biasa kita temukan di gunung-gunung, tapi karena karang yang tinggi menyebabkan air hempasan ombak tinggi mengalir dari sela-sela karang membuatnya seperti air terjun.

20160206_140730

Kami homestay di sebuah rumah warga. Kebetulan di rumah ini kami diperbolehkan menggunakan semua fasilitas rumah khususnya yang ada di dapur. Akhirnya, kami pun masak :D. Dan yang menarik di sini adalah, harga sayur mayur dan bahan pokok relatif murah, ga jauh beda dengan harga di Bekasi. At least sepertinya penduduk sini terbiasa hidup dengan cara jujur. Good.

Yang menarik di Daerah ini, kami sering menemui suku Badui luar wara-wiri menawarkan dagangannya, berupa anyaman tas, madu hutan, gantungan kunci, hasil karya tangan mereka. Meskipun rada expensive untuk harga sebuah gantungan kunci 15rb dan tas anyaman kecil 30rb >_<.

20160207_100404

Yang membuat kurang nyaman adalah derungan motor yang tiap detik lewat jalur homestay. Bahkan motor dengan leluasa bolak balik sampai ke pinggir pantai, membuat para pedestrian harus rela tiap detik menepi berdesakan dengan semak belukar supaya mereka bisa lewat. At least, setidaknya kami berharap di sekitar Sawarna ada penitipan khusus motor sehingga motor tidak perlu masuk ke area wisata dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi para pengunjung lain. Kalau bisa jangkauan motor pengunjung jangan sampai melebih sungai. Hectic banget dan beneran mengganggu. Dan penempatan homestay dan kios dagangan mudah-mudahan bisa terkoordinasi dengan baik dan rapi sehingga tidak terkesan acak-acakan. Dan pertahankan lahan pertanian di sekitar pantai Sawarna karena menjadi poin plus yang menambah keindahan alam Sawarna.

20160206_134429

20160206_134803

Kalo lagi bicara Sawarna, jadi pengen balik ke sana lagi… ❤ ❤ I Love Indonesia.

Advertisements

Trip Ke Pulau Pramuka

Standard

Udah lama banget rasanya engga jalan-jalan bareng keluarga, tahun lalu sempet ke Semarang – Jogja – Kebumen – Semarang – Jakarta, tapi itu pun dalam rangka mudik ke keluarga suami :D. Sempet juga ke Pelabuhan Ratu, tapi ada kejadian kurang enak karena adik ipar dan temannya hampir terseret ombak, Alhamdulillaahnya semua selamat.

Rutinitas seorang ibu dari anak-anak yang masih berusia TK dan SD memang sedikit sibuk, dari mengantar anak-anak ke sekolah, ke pasar, jemput si adik yang masih TK, masak makan siang dan mengantarnya ke kedua kakak, de el el, susah rasanya mengaktualisasikan jiwa petualang yang sering kali merasa terpanggil oleh Alam, hehe… sebenarnya rada jeles juga sama laki aye, secara kegiatan di luarnya banyak… kemping ke Papandayan, ke Semeru, ke Pangrango.. bininye di rumah gigit jari sambil ngulek sambel dan memandangi penggorengan.. 😀 :D. Dikira cuma bapak-bapak doang kali yah yang butuh refreshing… :p.

Tapi bukan Lilis Suryanih namanya kalo sampai ga punya seribu cara ke Gang Kelinci 😀 … we have a lot of fun activities to do <- salah satu keuntungan karena punya banyak hobi, meskipun kadang bikin ga fokus >_<. Cuma modal 1 gulung benang dan 1 hakpen, kita bisa menikmati hidup dengan indahnya merajut selama seharian. Atau mungkin sambil ngelipet bungkus kopi hasil donasi orang-orang :D. Atau sulam pita. Atau ngoprek-ngoprek aplikasi. Update Blog – kayak sekarang. Atau nyoba-nyoba resep. Atau menikmati naik KRL menuju pasar senen, tenabang atau pasar pagi.. meski ga belanja karena memang ga hobi belanja :p. Atau sekedar coffee morning bareng temen-temen di recommended breakfast spot.. Yeah, intinya adalah, tak perlu ada kata MATI GAYA di kamus kita :p.

Nah, kebetulan, beberapa pekan lalu salah satu ibu wali murid di sekolah anakku menawarkan trip ke Pulau Pramuka, salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Sebenarnya ini acara kelas anak laki-laki aja, makanya berasa dapet Jackpot pas kita sekeluarga dibolehin ikut. Sekolah anakku adalah sekolah Islam bermanhaj Salaf yang kelas laki-laki dan kelas perempuannya di pisah, cekidot at http://alhilal.or.id. Makanya dimaklumi aja kalau hampir semua peserta yang ikut yaa anak laki-laki.

Sabtu, 14 Juni 2014 … setelah Sholat Shubuh, rombongan kami langsung berangkat ke Muara Angke, karena kapal yang kami tumpangi biasanya berangkat sekitar jam 6-7 pagi. Ternyata di Muara Angke sudah mulai padat kendaraan, dan mulai banyak orang lalu lalang yang dilihat dari penampilannya punya tujuan yang sama, yaitu ke Pulau Seribu. Rada malu ati juga update di blog, padahal cuma ke Pulau Pramuka doang… secara ratusan bahkan ribuan penduduk sekitar biasa bolak-balik tiap hari antara Muara Angke dan Pulau Pramuka, dan mereka ga pernah sekalipun update blog, hehe… (salah siapa coba? :p). Atau laki aye aja yang udah biasa pergi kemane2 yang lebih jauh lagi dari Pulau Pramuka juga biasa aje. Tapi yaa bukan salahku juga kalo aku punya bakat norak bin narsis lebih gede dibandingin orang lain, Dan bukan salahku juga kalo aku merasa harus selalu menghargai setiap bakat yang aku miliki.. bukankah bakat merupakan anugerah? wkwk… Tadinya pengen juga ngaku lagi jalan-jalan ke Maldives, tapi hati nurani rasanya tak sanggup untuk melakukan pembohongan publik :p.

Tapi ishh… meskipun sudah pernah ke sini sebelumnya waktu Trip ke Pulau Tidung, kondisi Muara Angke masih juga bikin aku ga nyaman, secara aku harus mengangkat gamis 3 layer hitam ku yang cantik, ihiyy >_< supaya ga ngepel-in jalannya yang tergenang air kotor. Yaiiyy… ada bocah (yang ngakunya) petualang yang takut bajunya kena noda lumpur :D.

20140614_070119

 

 

20140614_070126

 

 

Udah gitu antriannya manteppp banget, ga bisa di sela.. secara kena senggol dikit aja bisa nyebur ke laut *ngantrinya kan di atas geladak kapal* :p.

 

20140614_070556

 

Tapi Alhamdulillaah, cuaca hari itu sejuk banget dan gelombang laut pun tenang. Dan perjalanan di atas kapal selama 3 jam itu sukses aku lalui dengan lancar, sempet juga menyesal kenapa ga bawa benang dan hakpen, tapi fikiran-fikiran itu kutepis dan cukup bersyukur karena bisa main onet sampe 5 level, abis itu tidur dengan indahnya :D.

Alhamdulillaah, sampai juga di Dermaga Pulau Pramuka. Tak kusangka, sudah banyak orang yang bersiap menyambut kedatangan kami dengan mata berbinar.. Serasa anggota JKT48 kulambaikan tanganku dan kugelengkan kepalaku setiap kali mereka menyapaku.. “Gorengan.. gorengan… aqua.. aqua.. mijon.. mijon..”. Benar-benar penduduk yang ramah :D. Dan pemandangannya pun benar-benar keren, masya Allaah. Yang kalo kata anakku, kalau di hutan kita bisa bilang ThinkGreen, tapi kalo di sini ThinkBlue, saking lautan biru terhampar di sekeliling kami.

20140614_103446

 

Sepanjang jalan menuju penginapan, kusandarkan kepala di bahu suamiku sambil berbisik… “Bang, nanti malam enak banget kayaknya nih kalo kita jalan-jalan berdua sambil memandang bulan menyusuri pantai” *winkwink* kukedipkan mataku genit -huek- suamiku cuma bisa tersenyum :D. Dan benar-benar terjadi, malam-malam kami berdua menyusuri pantai … ke dermaga-dermaga, sambil bawa senter, ngos-ngosan nyariin krucil-krucil yang kabur pengen mancing malem-malem di pinggir dermaga.. takut mereka pada ilang.. haha…. >_<

 

20140614_114721

 

20140614_120300

 

Sesampainya di penginapan yang terletak di sisi pantai.. anak-anak langsung bereksplorasi, mencari kepiting, mencari ikan dan basah-basahan. Kemudian setelah Sholat Dzuhur dan makan siang, kami pun bersiap untuk snorkeling di Pulau Air dan Pulau Semak Daun.

20140614_124843

 

20140614_124956

 

Asli keren banget. Di Pulau Air ini banyak banget Bintang Laut, dan anak-anak pun menemukan banyak sekali cangkangnya. Yang berwarna hitam adalah Cangkang Bintang Laut yang masih hidup, sedangkan yang berwarna putih adalah cangkang sisa setelah mereka ‘menetas’… mungkin fungsinya seperti cangkang telur ayam. Sedangkan di Pulau Semak Daun, dengan pasir pantainya yang putih dan suasananya yang masih asri, cocok kayaknya buat kemping, di sana ada beberapa orang juga yang buka tenda, ada banana boatnya juga.

20140614_135456

 

20140614_135520

 

121212

 

20140614_142458

 

Setelah meninggalkan Pulau Semak Daun, kami beralih ke Lokasi penangkaran Hiu dan ikan Kuwe. Setelah itu kami kembali ke penginapan untuk bersiap-siap Sholat Maghrib dan makan malam.

IMG-20140615-WA0025

 

IMG-20140615-WA0005

 

11111

 

Esok paginya, pada acara bebas sebelum berkunjung ke tempat penangkaran penyu, anak-anak memutuskan untuk bermain kayak. Setelah melihat penyu, Kemudian mereka pun berangkat menuju lokasi banana boat dan doughnut boat. Qadarullaah, ada badai kecil dan guyuran hujan yang mengharuskan kami berhenti bermain banana boat, padahal belum semua anak-anak mencobanya.

20140615_065443

20140615_070240

 

Setelah berbilas, sholat dan makan siang, kami semua harus bersiap-siap pulang untuk kembali ke Jakarta.
Kapal tiba tepat waktu, sekitar jam 1 siang. Namun karena cuaca hujan dan gelombang laut tinggi, sebagian besar rombongan kami mabuk laut dan muntah di kapal… secara mubazir sudah jauh-jauh ke pulau pramuka, dan capek-capek tapi engga dimuntahin tuh kapal… kalo kata orang dulu, muntah itu tanda betah, hehe :p *ngeles*. Alhamdulillaah, akhirnya kami pun tiba dengan selamat. ❤ ❤

:: Tak Ada Judul ::

Standard

metromini

 

:: Tak Ada Judul ::

Bila harus memilih, pasti rasanya lebih nyaman mengajak anak ke suatu tempat dengan kendaraan pribadi, bisa duduk santai dan anak bisa tidur karena terbuai sejuknya AC. 
Bila harus memilih, pasti rasanya lebih menyenangkan membawa anak ke pusat perbelanjaan, mengajak bermain di game center, lalu makan di restoran. 
Bila harus memilih, pasti rasanya lebih nikmat mengajak anak ke tempat rekreasi yang sejuk, menginap di villa, menghirup udara segar atau menikmati pemandangan.
Tapi hari ini aku memilih mengajak anak gadisku yang sedang beranjak remaja ke rumah neneknya selama long weekend, karena kebetulan anak laki-lakiku dan suamiku sedang pergi kemping ke Papandayan. Karena aku termasuk biskotaholic, alias hobi berat naik angkot, maka aku pun mengajak anakku menikmati pemandangan ibukota dengan naik biskota. Biasanya, bila ke rumah nenek, aku memilih bus yang lewat tol dalam kota, turun di Slipi Jaya, kemudian naik Kopaja. Karena waktu menjelang malam hari, kali ini aku memutuskan untuk lewat jalur yang agak ramai dengan alasan keamanan.
Transit di Terminal Blok M di Jakarta Selatan, maka untuk menuju destinasi selanjutnya, kami harus naik metromini, biskota yang berwarna oranye, berbangku plastik, yang bahkan tidak memiliki speedometer di dalamnya.
Sudah lebih belasan tahun aku tidak pernah melewati tempat ini di malam hari. Sedikit menakutkan. Sepertinya kenyamanannya sudah mulai pudar dan keramahannya sudah mulai terkikis seiring dengan luruhnya cat pada halte-haltenya yang sudah penuh berkarat. Suasana yang suram karena temaram lampu jalan bercampur dengan derum suara mesin biskota yang menggelegar, bersaing dengan dentuman musik dari lapak-lapak toko, ditambah dengan wajah-wajah tak bersahabat yang hilir mudik di sekitar terminal, semakin terasa panjang waktu penantian.

Kualihkan pandangan mataku ke sekitar terminal, yang dulunya pernah jadi terminal favoritku karena lebih tertib dan bersih di bandingkan terminal-terminal lain di Jakarta. Di pojok kiri sebelum pintu masuk, sudah mulai banyak pedagang kaki lima membuka lapak, terlihat serabutan. Ada yang dagang kaus oblong, sepatu, dll. Beberapa meter dari situ, terdapat banyak kumpulan pengamen sedang nongkrong dan bercanda, dengan kondisi seadanya, dari mulai yang berusia dewasa hingga usia anak-anak. Dengan kondisi seadanya kusebutkan, karena melihat betapa lusuh dan menakutkannya mereka, meski dari wajah-wajah mereka terpancar kebahagiaan penuh kebebasan. Kebebasan yang dulu ketika ABG pernah aku impikan, namun sekarang membuat aku ngeri karena doktrin kebebasan itu menimbulkan rasa tak aman bagi orang lain, khususnya bagi seorang wanita yang bergelar ibu seperti aku, yang memiliki anak-anak dan menginginkan anak-anaknya memiliki masa depan yang indah dan hidup dalam harmoni, jauh dari kata kebebasan yang ambigu.

Terlihat rasa lelah dan khawatir di wajah anakku, karena hampir sejam metromini masih saja setia menunggu penumpang. Sedangkan belasan pengamen sudah berkali-kali hilir mudik bergantian mengamen di bis yang kami naiki. Belasan kali bukanlah kalimat sarkastik, tapi karena memang kenyataannya seperti itu. Sepertinya mereka tak membiarkan pikiran-pikiran kami bereksplorasi sepanjang penantian karena mereka terus saja menjejali kami dengan lagu-lagu yang bahkan kami sendiri tak tahu judul dan penyanyinya. Atau barangkali karena memang populasi mereka yang semakin meningkat sedangkan jumlah armada bis tak jua bertambah, sehingga mereka tak punya lapak lain untuk singgah.

Aku beritahu anakku, dalam kondisi-kondisi seperti ini, hendaknya kita harus senantiasa bersikap tenang dan jangan pasang wajah khawatir, karena akan membuka peluang kejahatan. Duduklah di kursi dekat pak sopir, dan jangan menonjolkan barang-barang mewah semisal hape atau isi dompet. Dan tentu saja selalu berdzikir kepada Allaah. Tapi, ibu mana yang akan tega melepas anak gadisnya melewati saat-saat seperti ini lagi, dalam kondisi sendirian, di kelilingi wajah-wajah menakutkan, di malam hari pula.

Alhamdulillaah, akhirnya metromini pun melaju. Ditemani angin malam yang sejuk, dihiasi dengan lampu kendaraan yang menerangi kemacetan ibukota, bis kami pun berjalan perlahan menyusuri jalan.

Kulempar pandanganku kembali keluar jendela, kini kami sedang melewati jalan-jalan yang nyaman dengan toko-toko indah berseliweran, petugas keamanan yang siap sedia berjaga, terlihat banyak mobil mewah yang menepi di pinggir jalan, sungguh pemandangan yang kontras dengan apa yang baru saja kami hadapi tadi. Aku hanya bisa mendesah panjang, alangkah sedihnya karena ternyata kenyamanan hanya milik orang-orang yang mampu membelinya dengan uang mereka. Maka tak perlu heran apabila ada orang yang bersedia banting tulang siang malam demi sebuah kenyamanan. Tak perlu juga heran apabila banyak orang bekerja seumur hidup mereka hanya karena sebuah pengakuan bahwa mereka bisa survive dalam kerasnya kehidupan.

Hanya dalam hati aku berbisik, semoga saja anakku mengerti bahwa dalam kehidupan di dunia ini, begitu banyak hal-hal di luar jangkauan pemikiran kita. Masih banyak manusia yang tidak seberuntung kita dan hendaknya kita selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita selama ini. Dan semoga saja anakku faham, bahwa kemewahan hanyalah komoditi manusia untuk berbangga diri yang tidak sadar bahwa semua itu tak akan bisa di bawa mati. Maka hendaklah kita harus selalu bersikap pertengahan, bila diberi kemudahan tak perlu berlebihan dan perbanyak amal. Dan apabila diberi ujian hidup, tak boleh banyak mengeluh.

* pulang mengantar anakku, aku naik bus yang sama, dan menemukan seorang anak kecil usia 2 tahun yang bahkan belum lancar bicara sedang mengamen bersama kakaknya. Tanpa rasa ngeri naik turun biskota yang sedang melaju. Siapa yang bisa disalahkan? Orangtuanya? Pemerintah? Atau diri kita sendiri sebagai bagian dari masyarakat yang apatis, yang hanya bisa memandangi tanpa mau mengulurkan tangan? Atau malah mereka yang memiliki hati yang baik yang senantiasa mengulurkan tangan memberikan uang atas dasar kasihan sehingga membuat mereka ketagihan? Siapa yang bisa disalahkan? well, inilah keindahan ibukota kita dengan segala pernak-perniknya, The Jekardah.

** tidak bermaksud menyinggung siapapun **

#jakarta #catatanperjalanan #terminal #metromini #biskota

Menjenguk Penyu di Ujung Genteng

Standard

Yaps, finally… setelah menunggu ikat rambut rajutan pesanan teman kelar, diberi juga kesempatan oleh Allah untuk sharing hasil jalan-jalan kami pekan lalu, ke Ujung genteng, Sukabumi, yang emang asli ujuuungg banget ><. Plis deh, padahal tiap rumah ada ujung gentengnya yah, ngapain juga mesti jauh-jauh ke Sukabumi segala.. haha…

Bersama keluarga bapak H dan ibu R serta keempat anak mereka (bisa dibayangkan ‘kan suasananya melakukan perjalanan dengan 7 krucil.. hehe) perjalanan panjang pun di mulai,  Ujung Genteng memang masih puluhan kilometer lagi dari Pelabuhan Ratu (sekitar 3-4 jam perjalanan), jadi wajar aja kalau disebut perjalanan panjang.

Sebelum memulai perjalanan, kami sudah packing kebutuhan-kebutuhan kami di sana, karena rencananya memang akan menginap. Tadinya mau buka tenda, tapi al hamdulillaah, ternyata di sana banyak juga penginapan yang disewakan, jadi ga perlu repot2- bawa tenda, cukup bawa duit aja yang banyak, hehe…

Setibanya di sana, tepatnya di Cibuaya, kita akan disambut perkampungan nelayan yang tidak terlalu besar. Ombaknya lembut, karena meskipun terletak di sisi samudera, sepanjang pantainya memiliki karang sebagai pemecah ombak alami. Kebetulan ketika kami tiba di sana, arus laut sedang surut, jadi mudah melihat karang-karang yang berderet di sepanjang pantai. Ini penampakan pesisir pantainya, aslinya lebih indah lho…

ujunggenteng2

Anak-anak pun langsung berlari ke pantai dan berenang, sambil mencari binatang kecil (kepiting, ikan, dll), senang banget sepertinya… *padahal tadinya pas di jalan pengennya cari harta karun, haha..*. This is their treasure!

Ujunggenteng1

Ujung genteng selain terkenal dengan pantainya yang indah, juga terkenal dengan penangkaran penyu-nya. Setiap jam 5-6 sore ada pelepasan tukik (anak penyu) ke lautan, itu kalau ada telur yang menetas yaah… kenapa di pilih sore hari dan bukan pagi hari, ternyata ada alasan pentingnya, karena saat sore hari, predator yang biasa memangsa tukik-tukik sudah kembali ke samudera, dan hal ini memperkecil resiko kematian tukik (kenapa ga nunggu di jemput emaknya yah, kasian masih bayi udah harus berenang ke samudera : D). Dan qadarullaah, karena anak-anak begitu sibuk bermain di pantai, kami pun tak sempat menghadiri acara pelepasan tukik yang jaraknya sekitar 1 km dari pantai Cibuaya. Padahal saat itu, kami sudah berjalan kaki menyusuri sepanjang pantai menuju lokasi pelepasan tukik.

Sebenarnya lokasi penangkaran dan pelepasan tukik bisa dicapai dengan kendaraan baik mobil atau motor, tapi karena anak-anak sudah kadung basah karena berenang, maka kami memutuskan untuk memilih berjalan kaki. Ini dia penampakan lokasi pantai penangkaran dan pelepasan tukik.

ujunggenteng3

Meski hanya berjarak 1 km, karakter pasir di lokasi penangkaran dan pantai Cibuaya sangat berbeda. Tempat peneluran penyu, memiliki pasir yang sangat halus dan lembut, berbeda dengan pantai Cibuaya yang penuh koral dan karang-karang.

Setelah gagal menyaksikan atraksi penyu yang kembali ke habitatnya, kami pun berjalan gontai menuju ke Cibuaya *halah* : P… It is so spooky here, gelap dan sunyi, hanya deburan ombak yang terdengar, sedangkan sisi satunya rawa-rawa gelap tak berujung. Beberapa kendaraan melewati kami yang berjalan kaki, kami hanya memandang sedih dengan tampang yang wajib dikasihani.. haha.. siapa suruh jalan kaki.. ><. Beberapa orang baik hati menawarkan tumpangan, tapi suami bergeming dengan alasan “Sudah dekat” dan “Kami menginap di sini” tanpa memperdulikan suara hati istrinya yang menjerit … “hayooo kita numpanggg..”. Dasar laki-laki, tak pernah sensitif dengan perasaan wanita.. haha…. this is point of view jalan spooky-nya, ini terang karena kesorot blitz yaah : P

ujunggenteng4

Alhamdulillaah, akhirnya sampai juga ke penginapan… fpiuuhh lega rasanya : D. Ayoo kita hunting nasi gorenggg….! hehe…

Karena gagal melihat tukik, kami memutuskan untuk bangun tengah malam supaya bisa melihat penyu bertelur di pantai yang tadi, karena kan penyu memang bertelur ketika malam hari. Can’t hardly wait for that moment… eh, ternyata, semua kebablasan sampe subuh (emang dasar pelor semua nih kayaknya, nempel bantal langsung molor, haha), makanya next time, niat bangun tengah malam tuh buat sholat malam, bukan liat penyu.. setidaknya kalo niatnya sholat masih dibangunin sama malaikat ><. Ya sudah, mau gimana lagi… Akhirnya pagi itu  kami berangkat ke lokasi penangkaran. Dengan jalan yang ajlut-ajlutan, kayaknya pernah dilewatin t-rex nih jalan, asli bolong-bolongnya persis kayak jejak t-rex di film the lost world : D. Atau dulunya mbah buyutnya  penyu yang berusia 2ribu tahun pernah lewat dan numpang bertelur di sini? yang diameternya sampe 5 meter? *abaikan* haha….

ujunggenteng5

Well, ternyata anak-anak juga terobati rasa kecewa-nya dengan melihat dan memegang tukik yang baru menetas… lucuuuu…. =3

ujunggenteng8

Ok, this is me who hold the tukik… halowww.. this is meee!! hehe….

ujunggenteng7

Owwh.. it is so cute and lovely… kantongin ah satu, hihi… just kidding! mana tegaaaa : D

Yups, lanjutkan ke lokasi penetasan penyu-nya… lay in here, 100-160 eggs of tortoise in one hole… menetas sekitar 2 bulan ke depan atau lebih cepat bila musim panas…

ujunggenteng9

Populasi penyu sudah mulai berkurang dan langka, ayo kita selamatkan penyu-penyu dan lestarikan habitat mereka.

ujunggenteng10

Setelah puas melihat lokasi penangkaran penyu, kami pun kembali ke penginapan. Qadarullaah cuaca hujan dan air laut mulai pasang… tapi anak-anak tetap senang berenang … Alhamdulillaah dapat hadiah pelangi.. love it, MasyaAllah… ^^

test

Eh, ada sedikit rahasia dibalik foto terakhir ini…. mau tau rahasianya? just scroll down… ; )

test2

Ternyata hasil editannnn… whoaaaa…. : D gpp, cuma nyuruh supaya orang-orang di fotonya pindah ke pantai sebelah kiri, haha … ups, lupa belum di watermark… ><

Camping di Gunung Papandayan

Standard

Alhamdulillah, ucapan terimakasih yang tak ada habisnya untuk Abu Aliyyah, yang sudah bersedia mengajak anak-anak menikmati indahnya pemandangan gunung Papandayan, Garut, selama 2 hari 2 malam. Mengajak mereka menikmati udara dingin dan suasana gunung papandayan yang penuh batu-batu dan sumber air panasnya. Dan tentu saja, memberiku waktu luang selama beberapa hari untuk menikmati kebersamaan dengan putriku ^^. Ini beberapa suasana gunung papandayan yang sempat di jepret beliau…

[Edisi Liburan Sekolah] Jalan-jalan ke TMII (lagi)… ~_~

Standard

Lagi seru-serunya nge-blog, ternyata icon insert gambarnya error… *sebel ah, ga asik banget sih cerita tanpa nunjukin foto-foto, bikin males aja dweh ^^’

Baiklah,  jangan jadikan masalah insert gambar sebagai batu sandungan :p. Kita lanjutkan cerita liburannya saja, ok?

*********************

{2 hours later…. Alhamdulillaah, bisa juga ke upload fotona… selamat menikmati ^^}

*********************

Gara-gara kemarin belum puas keliling TMII… kami memutuskan untuk mengajak anak-anak kembali lagi ke sana. Maklumlah, secara TMII lebih deket dari Bekasi. Kalo dulu pas tinggal di Tanjung Priok, Ancol akan jadi prioritas pertama tujuan wisata, kalo sekarang… serasa deh tuh Ancol jauhnya kayak di ujung dunia… hahay.. lebay :p.

Tujuan utama ke TMII sebenernya  ingin melihat isi gedung Pusat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan mengenalkan anak-anak akan Ilmu Pengetahuan. Intinya sih  supaya anak-anak ga gaptek bangets gitu loh… dan harapan terkecil kami, sepulang dari sana anak-anak bisa termotivasi untuk bikin robot sendiri atau roket sendiri, yaa kalo pun ga bisa, at least mereka bisa merakit PC atau HP sendiri, xixixi… *ngayal.com^^

 

Kalo mau jujur… anak-anak seusia mereka belum terlalu mengerti tentang teknologi. Apalagi disodorkan alat-alat peraga yang rumit semisal cara kerja solar system, satellite, nuclear system, refleksi cahaya, tekanan udara, motor penggerak atau tegangan listrik… bengong aja mereka ngeliat alat-alat aneh yang belum familiar dalam kehidupan mereka. Ketika dijelaskan oleh umi prinsip kerja dari benda-benda itu pun mereka ga tertarik sama sekali (malah kabur-kaburan mereka tuh, haddoh…). Ya sudahlah, biarkan mereka menikmati keanehan-keanehan benda hasil teknologi itu dengan kepala ringan… tanpa memperdulikan e=mc2 ^^

Setelah puas berkeliling, marilah mampir dulu di danau TMII, menggelar tikar, menumpuk jaket-jaket menjadi bantal, tidur2an santai, fesbukan, twitteran, dan yang paling penting, marilah kita habiskan bekal makanan kita  sambil memandangi pohon nan sepoi-sepoi dan angin yang menghijau… (kayaknya mabok kebanyakan ngeliatin alat-alat peraga  neh jadi ngomongnya rada ngaco… xixixi…)