Ummu Aliyyah

New Pattern of Ribbon Embroidery

Ga mau banyak bicara, yang paling penting adalah kerja dan berkarya *halah* …. abaikan… :p

 

1972493_10203382553315195_1986131929250224911_n

:: Tak Ada Judul ::

metromini

 

:: Tak Ada Judul ::

Bila harus memilih, pasti rasanya lebih nyaman mengajak anak ke suatu tempat dengan kendaraan pribadi, bisa duduk santai dan anak bisa tidur karena terbuai sejuknya AC. 
Bila harus memilih, pasti rasanya lebih menyenangkan membawa anak ke pusat perbelanjaan, mengajak bermain di game center, lalu makan di restoran. 
Bila harus memilih, pasti rasanya lebih nikmat mengajak anak ke tempat rekreasi yang sejuk, menginap di villa, menghirup udara segar atau menikmati pemandangan.
Tapi hari ini aku memilih mengajak anak gadisku yang sedang beranjak remaja ke rumah neneknya selama long weekend, karena kebetulan anak laki-lakiku dan suamiku sedang pergi kemping ke Papandayan. Karena aku termasuk biskotaholic, alias hobi berat naik angkot, maka aku pun mengajak anakku menikmati pemandangan ibukota dengan naik biskota. Biasanya, bila ke rumah nenek, aku memilih bus yang lewat tol dalam kota, turun di Slipi Jaya, kemudian naik Kopaja. Karena waktu menjelang malam hari, kali ini aku memutuskan untuk lewat jalur yang agak ramai dengan alasan keamanan.
Transit di Terminal Blok M di Jakarta Selatan, maka untuk menuju destinasi selanjutnya, kami harus naik metromini, biskota yang berwarna oranye, berbangku plastik, yang bahkan tidak memiliki speedometer di dalamnya.
Sudah lebih belasan tahun aku tidak pernah melewati tempat ini di malam hari. Sedikit menakutkan. Sepertinya kenyamanannya sudah mulai pudar dan keramahannya sudah mulai terkikis seiring dengan luruhnya cat pada halte-haltenya yang sudah penuh berkarat. Suasana yang suram karena temaram lampu jalan bercampur dengan derum suara mesin biskota yang menggelegar, bersaing dengan dentuman musik dari lapak-lapak toko, ditambah dengan wajah-wajah tak bersahabat yang hilir mudik di sekitar terminal, semakin terasa panjang waktu penantian.

Kualihkan pandangan mataku ke sekitar terminal, yang dulunya pernah jadi terminal favoritku karena lebih tertib dan bersih di bandingkan terminal-terminal lain di Jakarta. Di pojok kiri sebelum pintu masuk, sudah mulai banyak pedagang kaki lima membuka lapak, terlihat serabutan. Ada yang dagang kaus oblong, sepatu, dll. Beberapa meter dari situ, terdapat banyak kumpulan pengamen sedang nongkrong dan bercanda, dengan kondisi seadanya, dari mulai yang berusia dewasa hingga usia anak-anak. Dengan kondisi seadanya kusebutkan, karena melihat betapa lusuh dan menakutkannya mereka, meski dari wajah-wajah mereka terpancar kebahagiaan penuh kebebasan. Kebebasan yang dulu ketika ABG pernah aku impikan, namun sekarang membuat aku ngeri karena doktrin kebebasan itu menimbulkan rasa tak aman bagi orang lain, khususnya bagi seorang wanita yang bergelar ibu seperti aku, yang memiliki anak-anak dan menginginkan anak-anaknya memiliki masa depan yang indah dan hidup dalam harmoni, jauh dari kata kebebasan yang ambigu.

Terlihat rasa lelah dan khawatir di wajah anakku, karena hampir sejam metromini masih saja setia menunggu penumpang. Sedangkan belasan pengamen sudah berkali-kali hilir mudik bergantian mengamen di bis yang kami naiki. Belasan kali bukanlah kalimat sarkastik, tapi karena memang kenyataannya seperti itu. Sepertinya mereka tak membiarkan pikiran-pikiran kami bereksplorasi sepanjang penantian karena mereka terus saja menjejali kami dengan lagu-lagu yang bahkan kami sendiri tak tahu judul dan penyanyinya. Atau barangkali karena memang populasi mereka yang semakin meningkat sedangkan jumlah armada bis tak jua bertambah, sehingga mereka tak punya lapak lain untuk singgah.

Aku beritahu anakku, dalam kondisi-kondisi seperti ini, hendaknya kita harus senantiasa bersikap tenang dan jangan pasang wajah khawatir, karena akan membuka peluang kejahatan. Duduklah di kursi dekat pak sopir, dan jangan menonjolkan barang-barang mewah semisal hape atau isi dompet. Dan tentu saja selalu berdzikir kepada Allaah. Tapi, ibu mana yang akan tega melepas anak gadisnya melewati saat-saat seperti ini lagi, dalam kondisi sendirian, di kelilingi wajah-wajah menakutkan, di malam hari pula.

Alhamdulillaah, akhirnya metromini pun melaju. Ditemani angin malam yang sejuk, dihiasi dengan lampu kendaraan yang menerangi kemacetan ibukota, bis kami pun berjalan perlahan menyusuri jalan.

Kulempar pandanganku kembali keluar jendela, kini kami sedang melewati jalan-jalan yang nyaman dengan toko-toko indah berseliweran, petugas keamanan yang siap sedia berjaga, terlihat banyak mobil mewah yang menepi di pinggir jalan, sungguh pemandangan yang kontras dengan apa yang baru saja kami hadapi tadi. Aku hanya bisa mendesah panjang, alangkah sedihnya karena ternyata kenyamanan hanya milik orang-orang yang mampu membelinya dengan uang mereka. Maka tak perlu heran apabila ada orang yang bersedia banting tulang siang malam demi sebuah kenyamanan. Tak perlu juga heran apabila banyak orang bekerja seumur hidup mereka hanya karena sebuah pengakuan bahwa mereka bisa survive dalam kerasnya kehidupan.

Hanya dalam hati aku berbisik, semoga saja anakku mengerti bahwa dalam kehidupan di dunia ini, begitu banyak hal-hal di luar jangkauan pemikiran kita. Masih banyak manusia yang tidak seberuntung kita dan hendaknya kita selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita selama ini. Dan semoga saja anakku faham, bahwa kemewahan hanyalah komoditi manusia untuk berbangga diri yang tidak sadar bahwa semua itu tak akan bisa di bawa mati. Maka hendaklah kita harus selalu bersikap pertengahan, bila diberi kemudahan tak perlu berlebihan dan perbanyak amal. Dan apabila diberi ujian hidup, tak boleh banyak mengeluh.

* pulang mengantar anakku, aku naik bus yang sama, dan menemukan seorang anak kecil usia 2 tahun yang bahkan belum lancar bicara sedang mengamen bersama kakaknya. Tanpa rasa ngeri naik turun biskota yang sedang melaju. Siapa yang bisa disalahkan? Orangtuanya? Pemerintah? Atau diri kita sendiri sebagai bagian dari masyarakat yang apatis, yang hanya bisa memandangi tanpa mau mengulurkan tangan? Atau malah mereka yang memiliki hati yang baik yang senantiasa mengulurkan tangan memberikan uang atas dasar kasihan sehingga membuat mereka ketagihan? Siapa yang bisa disalahkan? well, inilah keindahan ibukota kita dengan segala pernak-perniknya, The Jekardah.

** tidak bermaksud menyinggung siapapun **

#jakarta #catatanperjalanan #terminal #metromini #biskota

Daur Ulang For Charity

Baiklah, hari ini kita akan membahas latar belakang judul thread ini. Kenapa bisa terbesit daur ulang untuk charity, yang kalo di IG (Instagram) biasa aku kasih hashtag #savetheearthlovethehuman .. Berawal dari hobi ibuku minum kopi, lalu aku minta ibuku mengumpulkan bungkus kopinya karena sayang melihatnya terbuang percuma. Tadinya aku berencana untuk bikin jas hujan, qadarullaah ga ada waktu sampai-sampai bungkus kopinya numpuk di pojokan. Akhirnya coba cari tutorial untuk ‘mengakali’ supaya bungkus kopi itu bisa bermanfaat, dan ternyata ada tutorial untuk bikin tas dari kertas bekas. Aku berinisiatif untuk menggantikan kertas itu dengan bungkus kopi. Well, jadi juga… meski untuk bikin 1 tas ini butuh 500 lembar bungkus kopi, dan butuh waktu 1 pekan untuk pengerjaannya >_<… Alhamdulillaah, ternyata ibuku senang dapet kiriman tas dari anaknya…

bungkuskopi4

 

Sejak itu, ibuku semakin rajin mengirim bungkus kopinya. Dan tetangga-tetangga yang melihat aku bikin tas dari bungkus kopi, mulai berinisiatif mengumpulkan bungkus2 kopi juga dan mengirimnya padaku. Karena banyaknya sumbangan, aku memutuskan tas yang dibuat dari hasil sumbangan teman-teman akan kami  jual dan hasil penjualannya akan didonasikan untuk korban bencana Alam dan Fakir miskin. Ayooo, siapa yang ingin ikutan menyumbangkan bungkus kopinya? contact me, ok? ^^

Kemudian, sharing dengan beberapa teman, lalu mereka bilang… bahwa tas yang aku bikin berbeda teknik pembuatannya dengan yang biasanya. Jadilah, mereka tunjukkan tas buatan orang, yang sepertinya lebih solid, berbeda dengan tas bikinanku yang lebih ringkih. Aku ngubek-ngubek lagi youtube untuk cari tutorialnya, ketemu beberapa tutorial, indonesia punya.. cuma ga maksimal karena prosesnya kurang detil. Alhamdulillaah, ada contoh tas real-nya yang bisa aku plagiat, dan hingga sekarang aku lebih pilih teknik ini. Ini beberapa hasilnya…

 

bungkuskopi

bungkuskopi3

bungkuskopi2

bungkuskopi1

 

10171148_10203464161875358_3217536739115571075_n

 

Setelah aku posting beberapa kali di dunia maya, baik melalui Facebook, Twitter atau Instagram tentang Daur Ulang for Charity ini .. Alhamdulillaah, ada juga yang mengirim bungkus2 kopi, bungkus snack, bungkus minuman instant, dll … Terimakasih yang sebesar2nya untuk yang telah menyumbang kepada kami; Ibuku, Bu Mar,  mbak Sikta Malasari, mba Puji Umm Harits, Umm Razan beserta anak2nya, mba Sri Umm Alfi, mba Ayesh Umm Abdillaah, mba yang dagang es Bubble, dll… Jazakunallaahu khayran ^^

Crochet Addict?

Bwuahh! ibarat orang yang sesak nafas karena tenggelam di dalam air, kemudian tiba2 aja mendapat udara yang bisa dihirup sepuas2nya. Begitulah aku, saat ini. Kenapa? rahasia :-x ..

Setengah tahun lalu, ketika awal ngerajut mulai booming lagi.. sebenernya aku ga terlalu tertarik. Tapi sekian waktu berlalu sejak anakku yang gadis minta diajarin ngerajut, perlahan-lahan.. virus merajut yang katanya adiktif itu sepertinya mulai menjangkitiku. Apalagi setelah ketemu banyak tutorial-tutorial yang ada di youtube, i found so much fun at crocheting. Meski belum bisa baca pola, tapi tutorial2nya cukup membantu, apalagi aku pilih tutor yang cenderung mudah dan simpel. So far, tas model batok kelapa yang menurutku paling mudah.. ^^

rajutan1

rajutan2

rajutan4

rajutan3

 

Nah.. yang ini nih yang paling spesial, pake yarn kantong plastik kresek … dengan pola yang sama (soalnya baru bisa itu aja.. hehe..). Lets go green..

rajutankantongplastik

Bermain Kokoru

ini Sebenernya udah lamaaa banget bikinnya, entah berapa tahun sebelum masehi.. hahha… cuma pas lagi ngeliat album lama di memory card, kayaknya mubadzir klo ga di posting di blog secara ni blog udah lama banget nganggurnya. Terkadang, melihat waktu anak-anak beraktivitas dulu, terasa menyenangkan banget… lama-lama mereka mulai tumbuh ‘n udah mulai meninggalkan kegiatan-kegiatan bersama seperti ini, cuma foto-foto aja yang tersisa… ihiks.

kokoru

Merajut Bunga dari Kantong Plastik Bekas

Masih tetap bertahan level-nya di Beginner dalam bidang crocheting, baru bisa bikin bunga, bunga dan bunga lagi, hehhe. Pengennya naik level supaya bisa bikin tas, peci atau cardigan… tapi kayaknya harus memupuk kesabaran dulu.

Benang habis untuk crochet? Jangan sedih… pake aja kantong plastik kresek bekas yang numpuk di rumah… sebenernya pengen banget crochet tas dari plastik bekas… qadarullaah belum punya cukup waktu bikinnya.. insyaAllaah next time.

crocheted flower

Science Project : Menara Banjir

Bismillaah.

Udah lama juga yah ga update blog. Kangen. Belakangan memang lagi rada sibuk ‘n banyak urusan, selain itu laptop mati. Lengkap sudah alasan untuk ga nge-blog.

Bulan lalu, anakku yang paling besar mendapat amanah dari sekolahnya untuk ikut berpartisipasi (mencalonkan diri) jadi nominasi peserta Lomba Sains. Kebetulan konsep telah di rancang sekolah, tinggal kita-nya yang bereksplorasi. Kita ditugasi untuk membuat sebuah Prototype Menara Banjir dengan cara kerja bila air telah melewati batas (limit) yang ditentukan dan menyentuh kabel Sirene yang terbuka, maka sirene di atas Menara akan berbunyi sebagai tanda Siaga bagi warga sekitar, hal ini dikarenakan air sebagai Penghantar Arus Listrik mulai bekerja ketika menyentuh kabel.

Meski akhirnya tidak masuk nominasi, tapi pengalaman membuat Proyek Sains yang ‘rada besar’, mudah-mudahan menambah motivasi anak-anak untuk terus berkarya. Semangat! ^^

menarabanjir

Pola Dasar Gamis Anak

Ini permintaan temanku untuk posting pola gamis dasar anak, sebenarnya aku yang menawari untuk membuatkan : P. Berhubung jarang penjual busana muslimah yang menyediakan gamis rumahan untuk anak perempuan usia 10-16 tahun, maka rasanya perlu juga memposting pola-nya, karena barangkali ada para ibu yang ingin membuatkan sendiri gamis untuk puteri-puteri mereka. I made this sketch with GIMP 2.6.

polabajuanak

Ini untuk pola lengannya..

lengangamisanak

Yang ini hasil akhirnya…

gamiskaos

Love your Kiddos, then they’ll love you…

Kemarin, Anak sulungku mendapat tugas dari gurunya di sekolah untuk menulis profile orang yang paling dikaguminya. Ternyata, dia memilih untuk menulis tentang ibu. Sepulang sekolah, dia memperlihatkan hasil karyanya kepadaku, yang langsung terharu ketika membacanya :”(. Dan dia bilang, sebenarnya dia juga ingin menulis tentang Abi, tapi kata ibu guru, cukup 1 orang saja.  I promised her to post her letter in my blog… dan bukan hanya karena ingin mempostingnya, tapi karena memang masa-masa indah perlu didokumentasikan, supaya kelak ketika kenangan indah itu dibaca ulang, akan menimbulkan sugesti untuk berfikir positif, insyaAllah.

Ini dia isi suratnya :

 

My Mother is Creative

Ibuku sangat kreatif.

Ibuku hampir setiap hari merajut untuk membuat kunciran pesanan temannya.

Ibuku juga suka bercanda.

Setiap pagi-pagi, aku dibangunkan dengan cara digelitiki.

Tapi kalau aku tidak suka bercanda.

Kadang-kadang kalau aku digelitiki, aku teriak.

Umi-ku juga lihai dengan menyulam pita, ibuku juga rajin menjahit kain flanel, juga membuat percobaan sains.

Tapi ibuku tidak terasa capek dengan itu.

Padahal ibuku telah mengandung aku dan kedua adikku selama 1-9 bulan.

Juga sudah membesarkanku hingga sekarang.

Aku sangat menyayanginya.  —–> I love this part the most :”(

Ibuku juga termasuk orang yang berjasa bagiku.

Ibuku juga pandai memasak, ibuku juga menjual buku resep.

Ibuku suka memasak nasi goreng, Mie jawa, bubur ayam dan bubur sumsum…

 

ceritaaliyyah

 

Kalau yang ini, kartu yang dibuat anak keduaku… manisss banget… <3

 

ahmad

 

Menjenguk Penyu di Ujung Genteng

Yaps, finally… setelah menunggu ikat rambut rajutan pesanan teman kelar, diberi juga kesempatan oleh Allah untuk sharing hasil jalan-jalan kami pekan lalu, ke Ujung genteng, Sukabumi, yang emang asli ujuuungg banget ><. Plis deh, padahal tiap rumah ada ujung gentengnya yah, ngapain juga mesti jauh-jauh ke Sukabumi segala.. haha…

Bersama keluarga bapak H dan ibu R serta keempat anak mereka (bisa dibayangkan ‘kan suasananya melakukan perjalanan dengan 7 krucil.. hehe) perjalanan panjang pun di mulai,  Ujung Genteng memang masih puluhan kilometer lagi dari Pelabuhan Ratu (sekitar 3-4 jam perjalanan), jadi wajar aja kalau disebut perjalanan panjang.

Sebelum memulai perjalanan, kami sudah packing kebutuhan-kebutuhan kami di sana, karena rencananya memang akan menginap. Tadinya mau buka tenda, tapi al hamdulillaah, ternyata di sana banyak juga penginapan yang disewakan, jadi ga perlu repot2- bawa tenda, cukup bawa duit aja yang banyak, hehe…

Setibanya di sana, tepatnya di Cibuaya, kita akan disambut perkampungan nelayan yang tidak terlalu besar. Ombaknya lembut, karena meskipun terletak di sisi samudera, sepanjang pantainya memiliki karang sebagai pemecah ombak alami. Kebetulan ketika kami tiba di sana, arus laut sedang surut, jadi mudah melihat karang-karang yang berderet di sepanjang pantai. Ini penampakan pesisir pantainya, aslinya lebih indah lho…

ujunggenteng2

Anak-anak pun langsung berlari ke pantai dan berenang, sambil mencari binatang kecil (kepiting, ikan, dll), senang banget sepertinya… *padahal tadinya pas di jalan pengennya cari harta karun, haha..*. This is their treasure!

Ujunggenteng1

Ujung genteng selain terkenal dengan pantainya yang indah, juga terkenal dengan penangkaran penyu-nya. Setiap jam 5-6 sore ada pelepasan tukik (anak penyu) ke lautan, itu kalau ada telur yang menetas yaah… kenapa di pilih sore hari dan bukan pagi hari, ternyata ada alasan pentingnya, karena saat sore hari, predator yang biasa memangsa tukik-tukik sudah kembali ke samudera, dan hal ini memperkecil resiko kematian tukik (kenapa ga nunggu di jemput emaknya yah, kasian masih bayi udah harus berenang ke samudera : D). Dan qadarullaah, karena anak-anak begitu sibuk bermain di pantai, kami pun tak sempat menghadiri acara pelepasan tukik yang jaraknya sekitar 1 km dari pantai Cibuaya. Padahal saat itu, kami sudah berjalan kaki menyusuri sepanjang pantai menuju lokasi pelepasan tukik.

Sebenarnya lokasi penangkaran dan pelepasan tukik bisa dicapai dengan kendaraan baik mobil atau motor, tapi karena anak-anak sudah kadung basah karena berenang, maka kami memutuskan untuk memilih berjalan kaki. Ini dia penampakan lokasi pantai penangkaran dan pelepasan tukik.

ujunggenteng3

Meski hanya berjarak 1 km, karakter pasir di lokasi penangkaran dan pantai Cibuaya sangat berbeda. Tempat peneluran penyu, memiliki pasir yang sangat halus dan lembut, berbeda dengan pantai Cibuaya yang penuh koral dan karang-karang.

Setelah gagal menyaksikan atraksi penyu yang kembali ke habitatnya, kami pun berjalan gontai menuju ke Cibuaya *halah* : P… It is so spooky here, gelap dan sunyi, hanya deburan ombak yang terdengar, sedangkan sisi satunya rawa-rawa gelap tak berujung. Beberapa kendaraan melewati kami yang berjalan kaki, kami hanya memandang sedih dengan tampang yang wajib dikasihani.. haha.. siapa suruh jalan kaki.. ><. Beberapa orang baik hati menawarkan tumpangan, tapi suami bergeming dengan alasan “Sudah dekat” dan “Kami menginap di sini” tanpa memperdulikan suara hati istrinya yang menjerit … “hayooo kita numpanggg..”. Dasar laki-laki, tak pernah sensitif dengan perasaan wanita.. haha…. this is point of view jalan spooky-nya, ini terang karena kesorot blitz yaah : P

ujunggenteng4

Alhamdulillaah, akhirnya sampai juga ke penginapan… fpiuuhh lega rasanya : D. Ayoo kita hunting nasi gorenggg….! hehe…

Karena gagal melihat tukik, kami memutuskan untuk bangun tengah malam supaya bisa melihat penyu bertelur di pantai yang tadi, karena kan penyu memang bertelur ketika malam hari. Can’t hardly wait for that moment… eh, ternyata, semua kebablasan sampe subuh (emang dasar pelor semua nih kayaknya, nempel bantal langsung molor, haha), makanya next time, niat bangun tengah malam tuh buat sholat malam, bukan liat penyu.. setidaknya kalo niatnya sholat masih dibangunin sama malaikat ><. Ya sudah, mau gimana lagi… Akhirnya pagi itu  kami berangkat ke lokasi penangkaran. Dengan jalan yang ajlut-ajlutan, kayaknya pernah dilewatin t-rex nih jalan, asli bolong-bolongnya persis kayak jejak t-rex di film the lost world : D. Atau dulunya mbah buyutnya  penyu yang berusia 2ribu tahun pernah lewat dan numpang bertelur di sini? yang diameternya sampe 5 meter? *abaikan* haha….

ujunggenteng5

Well, ternyata anak-anak juga terobati rasa kecewa-nya dengan melihat dan memegang tukik yang baru menetas… lucuuuu…. =3

ujunggenteng8

Ok, this is me who hold the tukik… halowww.. this is meee!! hehe….

ujunggenteng7

Owwh.. it is so cute and lovely… kantongin ah satu, hihi… just kidding! mana tegaaaa : D

Yups, lanjutkan ke lokasi penetasan penyu-nya… lay in here, 100-160 eggs of tortoise in one hole… menetas sekitar 2 bulan ke depan atau lebih cepat bila musim panas…

ujunggenteng9

Populasi penyu sudah mulai berkurang dan langka, ayo kita selamatkan penyu-penyu dan lestarikan habitat mereka.

ujunggenteng10

Setelah puas melihat lokasi penangkaran penyu, kami pun kembali ke penginapan. Qadarullaah cuaca hujan dan air laut mulai pasang… tapi anak-anak tetap senang berenang … Alhamdulillaah dapat hadiah pelangi.. love it, MasyaAllah… ^^

test

Eh, ada sedikit rahasia dibalik foto terakhir ini…. mau tau rahasianya? just scroll down… ; )

test2

Ternyata hasil editannnn… whoaaaa…. : D gpp, cuma nyuruh supaya orang-orang di fotonya pindah ke pantai sebelah kiri, haha … ups, lupa belum di watermark… ><

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 42 other followers