APAKAH SETIAP ORANG YANG BERBUAT SALAH TIDAK LAYAK MENDAPATKAN PERTOLONGAN?

Standard

20 tahun yang lalu, ada seorang pemuda yang mencuri seekor burung langka di sebuah rumah. Namun pemuda itu tertangkap tangan. Seluruh warga dan anak muda di sekitar wilayah itu menghajar habis pemuda ini hingga babak belur. Pekikan provokasi agar pemuda ini dibunuh pun bergemuruh dari mulut-mulut seluruh warga yang sudah siap dengan segala senjata pentungan. Beberapa ibu dan anak-anak yang menyaksikan mulai panik ketakutan akan terjadinya pembunuhan, hanya karena seekor burung, seseorang akan kehilangan nyawanya malam ini. Namun, seorang bapak menahan warga untuk berbuat anarkis. Bapak ini melindungi si pemuda dengan segenap kemampuannya dari penghakiman massa. Langkahi saya dulu sebelum kalian bertindak brutal terhadap pemuda ini, katanya. Bapak ini menjaga si pemuda berjam-jam sebelum polisi datang dari amukan warga. Hingga akhirnya si pemuda diamankan. Esok harinya, pihak keluarga si pemuda datang ke rumah si bapak dengan penuh ucapan terimakasih karena telah menyelamatkan putranya. Dan putranya berjanji akan bertaubat dari kesalahan yang dia lakukan.

Bapak ini adalah seseorang yang sederhana. Orang kampung biasa yang bahkan namanya tak dikenal manusia. Bapak ini pun tak memiliki pendidikan tinggi. Meski begitu, pribadinya memukau banyak orang dan sering dijadikan panutan.

Seringkali beliau menolong orang gila di jalan, memberinya makanan dan pakaian. Seringkali beliau menjamu musafir asing yang tersasar, terkadang memberi mereka uang untuk kembali pulang. Dan darinya, manusia belajar banyak hal.

Seseorang yang terkena musibah karena kelalaian sendiri tidak layak ditolong supaya mereka belajar dari kesalahannya, pasti ini bukan prinsip dari si bapak tersebut. Tapi karena bantuan si bapak, pemuda itu malah insyaf merupakan sebuah pembelajaran penting bahwa proses pendidikan bukan hanya masalah qishos atau masalah balas-balasan, dengan anggapan bahwa perbuatan buruk harus dibalas dengan perbuatan buruk pula.

Hasil pendidikan bahwa manusia yang terkena musibah karena kelalaian sendiri tidak harus ditolong agar mereka belajar dari kesalahannya adalah seperti yang terjadi di kota-kota besar kini. Banyak orang hanya bisa menonton ketika terjadi kecelakaan tanpa mau menolong hanya karena mereka merasa kecelakaan itu akibat kesalahan pengemudi sendiri yang ngebut atau nyalip sembarangan, tanpa mau tahu alasan mereka ngebut di jalan bisa jadi istrinya sedang melahirkan, orang tuanya masuk rumah sakit atau alasan besar lainnya. Mereka dengan teganya membiarkan si pengemudi menggelepar-gelepar di tengah jalan, menghadapi sakaratul maut sendirian. Manusia hanya bisa menonton. Bahkan mobil-mobil yang lalu lalang pun tak bersedia menepi untuk sekedar membawanya ke Rumah Sakit terdekat karena takut jok mobilnya terkena ceceran darah. Setelah pengemudi meninggal, yang terjadi adalah mayatnya dibiarkan dipinggir jalan, hanya ditutup dedaunan. Padahal bisa saja sebenarnya dia masih bisa diselamatkan.

Atau bahkan ketika kendaraan seseorang mogok di tengah jalan, di tengah kemacetan, maka yang banyak kita temukan adalah sumpah serapah orang-orang kepada pengemudi yang menyalahkan kenapa membawa mobil bobrok di keramaian tanpa mau membantu mendorong kecuali sudah dicekoki puluhan ribu rupiah. Inilah produk dari prinsip pendidikan yang beranggapan bahwa manusia yang terkena musibah karena kelalaian sendiri tidak harus ditolong supaya mereka belajar dari kesalahannya? Menjadikan hati manusia mati dari rasa empati dan menjadikan mereka pelit mengulurkan tangan untuk membantu sesama.

Teringat sebuah kisah dari akhlak Syaikh bin Bazz ketika seorang pencuri masuk ke dalam rumahnya, lalu beliau menemui pencuri itu dan menanyakan kesulitannya, kemudian memberi pencuri itu uang untuk menyelesaikan permasalahannya. Yang terjadi adalah si pencuri malah bertaubat dan menjadi seseorang yang sholeh.

Apakah dengan membiarkan seseorang yang terkena musibah tanpa menolongnya dengan kilah bahwa itu adalah akibat dari perbuatannya sendiri bisa membuatnya belajar dari kesalahannya? Bahkan hal ini membuat mereka apatis, dan beranggapan bahwa manusia hanyalah makhluk-makhluk egois yang tak memiliki hati. Hendaklah seseorang yang berbuat salah dinasehati dengan lembut, diingatkan supaya bertaubat, namun jangan halangi diri kita untuk berbuat kebaikan.

Alangkah indahnya akhlak para Salafushalih yang senantiasa berlomba-lomba dalam berbuat baik kepada manusia. Ribuan contoh aksi nyata mereka dalam memaklumi kesalahan individu namun tetap menegakkan nasehat pada manusia.

Namun, apakah setiap kesalahan harus dibalas dengan kebaikan? Maka itu adalah tugas masing-masing pribadi untuk menilai sejauh mana kebaikan bisa diberikan.

.:: Ummu Aliyyah Ath-Thabrani ::.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s