Menjadi Guru atau…

Standard

Siapa yang tidak tahu dengan istilah Guru, seorang manusia yang bekerja tanpa pamrih untuk mengajarkan seorang anak segala hal yang mereka belum ketahui. Sebuah profesi mulia yang tidak semua orang bisa meraih keutamaannya. Ketika seorang guru mengajarkan satu kebaikan pada satu orang anak, dan anak itu melakukan kebaikan tersebut sepanjang hidupnya, maka sepanjang itu pula-lah pahala sang guru mengalir.

Seorang guru di sekolah anakku pernah bercerita bahwa dari kecil cita-citanya adalah menjadi guru, maka tak heran hari ini beliau menjadi seorang guru yang  berdedikasi (dalam pandangan mata saya) dan mudah-mudahan segala kebaikan yang diajarkan kepada anak-anak menjadi ladang pahala baginya. Menjadi seorang guru bukanlah sebuah profesi yang mudah (dalam pandangan mata saya -lagi), perlu sebuah itikad kuat dan kecintaan di dalamnya. Saya merasa sangat kagum dengan para guru yang begitu mencintai dunia anak-anak dan dunia pendidikan.

Kenapa saya tiba-tiba berbicara tentang guru dan dunia pendidikan, padahal saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang sehari-harinya hanya sibuk berinteraksi dengan para tukang sayur dan tukang ayam langganan, tak lain karena sejak setengah tahun lalu, saya mendapat keberuntungan untuk naik level menjadi bagian dari mereka. Miris memang, secara saya menilai bahwa diri saya masih sangat tidak layak untuk menjadi seorang tenaga pengajar dan mendapat kepercayaan untuk mendidik anak-anak yang terlihat masih sangat polos tersebut. Karena ketika saya berkaca pada diri saya sendiri, alangkah kasihan anak-anak itu menjadikan saya sebagai bagian dari pembentuk karakter dalam kehidupan mereka, yang bahkan anak-anak saya sendiri pun meragukan kemampuan saya.

Tadinya saya fikir, seseorang menjadi guru itu adalah hal yang mudah, cukup dengan modal cinta pada dunia anak-anak. Tadinya saya fikir, dengan niat berbagi ilmu pada orang lain sebagai penunjang kriteria menjadi seorang guru telah cukup saya penuhi, maka dengan gegabah saya menerima tawaran itu.

Hari ini saya berfikir ulang… bahwa ketika kita memilih sebuah jalan, maka kita harus membulatkan tekad kita dan berusaha sekeras mungkin untuk menjadi bagian dari jalan tersebut. Tapi yang saya temukan dalam diri saya adalah, ada sebagian kecil dari diri ini yang masih enggan untuk terikat pada sesuatu di luar keluarga. Ada sebagian kecil dalam diri saya tidak suka saya menyibukkan diri pada sesuatu yang masih belum ‘bulat’ di dalam hati.

Well, untuk para guru… berbanggalah dengan pekerjaan mulia kalian, karena tidak semua orang bisa menjadi pendidik. Dan tetaplah memiliki semangat dalam mendidik anak-anak kami… Salam cinta kepada kalian dari kami para wali murid ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s