:: Tak Ada Judul ::

Standard

metromini

 

:: Tak Ada Judul ::

Bila harus memilih, pasti rasanya lebih nyaman mengajak anak ke suatu tempat dengan kendaraan pribadi, bisa duduk santai dan anak bisa tidur karena terbuai sejuknya AC. 
Bila harus memilih, pasti rasanya lebih menyenangkan membawa anak ke pusat perbelanjaan, mengajak bermain di game center, lalu makan di restoran. 
Bila harus memilih, pasti rasanya lebih nikmat mengajak anak ke tempat rekreasi yang sejuk, menginap di villa, menghirup udara segar atau menikmati pemandangan.
Tapi hari ini aku memilih mengajak anak gadisku yang sedang beranjak remaja ke rumah neneknya selama long weekend, karena kebetulan anak laki-lakiku dan suamiku sedang pergi kemping ke Papandayan. Karena aku termasuk biskotaholic, alias hobi berat naik angkot, maka aku pun mengajak anakku menikmati pemandangan ibukota dengan naik biskota. Biasanya, bila ke rumah nenek, aku memilih bus yang lewat tol dalam kota, turun di Slipi Jaya, kemudian naik Kopaja. Karena waktu menjelang malam hari, kali ini aku memutuskan untuk lewat jalur yang agak ramai dengan alasan keamanan.
Transit di Terminal Blok M di Jakarta Selatan, maka untuk menuju destinasi selanjutnya, kami harus naik metromini, biskota yang berwarna oranye, berbangku plastik, yang bahkan tidak memiliki speedometer di dalamnya.
Sudah lebih belasan tahun aku tidak pernah melewati tempat ini di malam hari. Sedikit menakutkan. Sepertinya kenyamanannya sudah mulai pudar dan keramahannya sudah mulai terkikis seiring dengan luruhnya cat pada halte-haltenya yang sudah penuh berkarat. Suasana yang suram karena temaram lampu jalan bercampur dengan derum suara mesin biskota yang menggelegar, bersaing dengan dentuman musik dari lapak-lapak toko, ditambah dengan wajah-wajah tak bersahabat yang hilir mudik di sekitar terminal, semakin terasa panjang waktu penantian.

Kualihkan pandangan mataku ke sekitar terminal, yang dulunya pernah jadi terminal favoritku karena lebih tertib dan bersih di bandingkan terminal-terminal lain di Jakarta. Di pojok kiri sebelum pintu masuk, sudah mulai banyak pedagang kaki lima membuka lapak, terlihat serabutan. Ada yang dagang kaus oblong, sepatu, dll. Beberapa meter dari situ, terdapat banyak kumpulan pengamen sedang nongkrong dan bercanda, dengan kondisi seadanya, dari mulai yang berusia dewasa hingga usia anak-anak. Dengan kondisi seadanya kusebutkan, karena melihat betapa lusuh dan menakutkannya mereka, meski dari wajah-wajah mereka terpancar kebahagiaan penuh kebebasan. Kebebasan yang dulu ketika ABG pernah aku impikan, namun sekarang membuat aku ngeri karena doktrin kebebasan itu menimbulkan rasa tak aman bagi orang lain, khususnya bagi seorang wanita yang bergelar ibu seperti aku, yang memiliki anak-anak dan menginginkan anak-anaknya memiliki masa depan yang indah dan hidup dalam harmoni, jauh dari kata kebebasan yang ambigu.

Terlihat rasa lelah dan khawatir di wajah anakku, karena hampir sejam metromini masih saja setia menunggu penumpang. Sedangkan belasan pengamen sudah berkali-kali hilir mudik bergantian mengamen di bis yang kami naiki. Belasan kali bukanlah kalimat sarkastik, tapi karena memang kenyataannya seperti itu. Sepertinya mereka tak membiarkan pikiran-pikiran kami bereksplorasi sepanjang penantian karena mereka terus saja menjejali kami dengan lagu-lagu yang bahkan kami sendiri tak tahu judul dan penyanyinya. Atau barangkali karena memang populasi mereka yang semakin meningkat sedangkan jumlah armada bis tak jua bertambah, sehingga mereka tak punya lapak lain untuk singgah.

Aku beritahu anakku, dalam kondisi-kondisi seperti ini, hendaknya kita harus senantiasa bersikap tenang dan jangan pasang wajah khawatir, karena akan membuka peluang kejahatan. Duduklah di kursi dekat pak sopir, dan jangan menonjolkan barang-barang mewah semisal hape atau isi dompet. Dan tentu saja selalu berdzikir kepada Allaah. Tapi, ibu mana yang akan tega melepas anak gadisnya melewati saat-saat seperti ini lagi, dalam kondisi sendirian, di kelilingi wajah-wajah menakutkan, di malam hari pula.

Alhamdulillaah, akhirnya metromini pun melaju. Ditemani angin malam yang sejuk, dihiasi dengan lampu kendaraan yang menerangi kemacetan ibukota, bis kami pun berjalan perlahan menyusuri jalan.

Kulempar pandanganku kembali keluar jendela, kini kami sedang melewati jalan-jalan yang nyaman dengan toko-toko indah berseliweran, petugas keamanan yang siap sedia berjaga, terlihat banyak mobil mewah yang menepi di pinggir jalan, sungguh pemandangan yang kontras dengan apa yang baru saja kami hadapi tadi. Aku hanya bisa mendesah panjang, alangkah sedihnya karena ternyata kenyamanan hanya milik orang-orang yang mampu membelinya dengan uang mereka. Maka tak perlu heran apabila ada orang yang bersedia banting tulang siang malam demi sebuah kenyamanan. Tak perlu juga heran apabila banyak orang bekerja seumur hidup mereka hanya karena sebuah pengakuan bahwa mereka bisa survive dalam kerasnya kehidupan.

Hanya dalam hati aku berbisik, semoga saja anakku mengerti bahwa dalam kehidupan di dunia ini, begitu banyak hal-hal di luar jangkauan pemikiran kita. Masih banyak manusia yang tidak seberuntung kita dan hendaknya kita selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita selama ini. Dan semoga saja anakku faham, bahwa kemewahan hanyalah komoditi manusia untuk berbangga diri yang tidak sadar bahwa semua itu tak akan bisa di bawa mati. Maka hendaklah kita harus selalu bersikap pertengahan, bila diberi kemudahan tak perlu berlebihan dan perbanyak amal. Dan apabila diberi ujian hidup, tak boleh banyak mengeluh.

* pulang mengantar anakku, aku naik bus yang sama, dan menemukan seorang anak kecil usia 2 tahun yang bahkan belum lancar bicara sedang mengamen bersama kakaknya. Tanpa rasa ngeri naik turun biskota yang sedang melaju. Siapa yang bisa disalahkan? Orangtuanya? Pemerintah? Atau diri kita sendiri sebagai bagian dari masyarakat yang apatis, yang hanya bisa memandangi tanpa mau mengulurkan tangan? Atau malah mereka yang memiliki hati yang baik yang senantiasa mengulurkan tangan memberikan uang atas dasar kasihan sehingga membuat mereka ketagihan? Siapa yang bisa disalahkan? well, inilah keindahan ibukota kita dengan segala pernak-perniknya, The Jekardah.

** tidak bermaksud menyinggung siapapun **

#jakarta #catatanperjalanan #terminal #metromini #biskota

About Ummu 'Aliyyah

Seorang ibu dari 3 buah hati lucu, Aliyyah (12), Muhammad (10), Ibrohim (7 thn) yang senang bereksplorasi dan berinovasi. Istri dari Bpk Wahid Kurniawan. Jika ada orang yang bisa, maka kita pun bisa, insya Allah...

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s