Terkesima Buku Totto Chan ^^

Standard

Pernah denger serial buku Totto Chan?  Sebuah buku kisah nyata tentang perjalanan seorang gadis cilik yang unik dan mengajari banyak hal. Tadinya aku fikir, buku ini isinya komik biasa dengan cerita-cerita percintaan seperti komik-komik lainnya😛, makanya pas temen-temen beberapa kali ngomongin buku ini.. aku sama sekali ga tertarik bacanya.. hehe. Qadarullaah, kemarin di IBF (Islamic BookFair) ketemu buku ini dan alhamdulillah dibeli-in sama abu Aliyyah. Ternyata isinya Masya Allah menarik.

Kisahnya tentang seorang gadis cilik yang dikeluarkan dari sekolah karena dianggap ‘nakal’ dan susah di atur, hobinya memandang keluar jendela kelas dan enggan mengikuti pelajaran. Yang akhirnya, mamanya memasukkannya ke sekolah yang sesuai dengan karakter si anak, dan mampu mengarahkan anak-anak didiknya ke cara belajar yang di sukai sang anak. Menariknya buku ini, di lihat dari betapa besar rasa keingintahuan totto chan akan segala hal, di mulai dari dompetnya yang jatuh ke septic tank, dan karena saking senengnya sama tu dompet, terpaksa dia harus ‘menguras’ isi septic tank (tapi dompetnya tetep ga ketemu). Hobi-nya yang senang menyelinap melalui pagar-pagar kawat di halaman rumah orang sampe baju-bajunya robek. Ada kejadian dia loncat ke gundukan pasir (padahal adonan semen) yang akhirnya membuatnya terjebak di situ hingga sore hari sampai sang mama menemukannya. Atau kejadian ketika dia loncat ke atas kertas koran yang menutupi lubang septic tank yang mengharuskannya kejeblos di dalamnya… she’s really ‘konyol’.. hehe….

Aku baca buku ini baru setengahnya, tapi rasanya udah ga sabar berbagi keunikan buku ini di blog. Kenapa begitu besar rasa ketertarikan aku akan buku ini, mungkin karena sebagian besar kisah-kisahnya mirip kisahku waktu kecil.. meski ga se-inspiring kayak tokoh tottochan. Se-akan-akan seperti video yang bisa di rewind, jadi teringat semua pengalamanku.

Jadi pengen cerita beberapa kisah-ku juga..  yuk, mari aganwati, di simak!😀

Dulu, sekolahku cukup jauh dari rumah… harus melewati jalan raya yang memutar, atau jalan pintas lewat persawahan yang penuh lumpur (padahal rumahku di perbatasan jakarta loh :D).  Tapi aku lebih senang berangkat sendirian lewat jalan sawah (karena ga sabar kalo harus berlama-lama di perjalanan). Setiap pagi, aku selalu menyempatkan diri untuk menengok sebuah pohon perdu berbunga indah yang ada di sisi sawah, kadang-kadang aku mengajaknya ngobrol (kalo ada orang dewasa yang melihat, pasti aku udah disangka anak ‘gila’ :P).. bertanya-tanya dalam hati apakah pohon itu mengerti apa yang aku bicarakan? atau terkadang menghirup aroma bunganya yang tidak wangi. Setiap pulang sekolah di siang hari, aku berharap bunga-nya yang indah akan menyambutku seperti ketika aku berangkat. Tapi ternyata, bunga itu selalu saja mengering (aku belum tau kalo itu adalah bunga morning glory :D).  Sedih sekali rasanya. Hampir setiap hari lewat berharap bunganya masih mekar, tapi tak pernah terlaksana. Hingga aku menyempatkan diri berlari ke sawah pada hari Ahad jam 9 pagi untuk memeriksanya, tapi ternyata bunga itu tetap saja sudah layu.  Pekan depannya, aku berangkat jam 7 pagi.. ternyata bunga itu masih mekar, aku tunggui bunga itu tapi akhirnya bosan karena aku tidak mampu melihat proses layu-nya yang ternyata lumayan lama… capek juga ternyata ^^. Bunganya mirip ini nih :

Aku juga jadi teringat ketika orang-orang dewasa mencari ikan dengan terjun ke kali kecil di  dekat persawahan, aku pun tak mau ketinggalan ikutan terjun. Ketika orang-orang dewasa itu merogohkan tangan mereka ke sela-sela bebatuan, aku pun ikut merogohkan tanganku. Betapa gembiranya aku ketika teraba sebuah benda asing bersisik yang aku kira ikan yang kucari, tapi kemudian benda itu malah menggigit kakiku, yang ternyata adalah Ular Sawah… huwaaa….. (Sejak saat itu aku kapok terjun ke tengah kali/sawah, hehe..). Atau belajar memasang bubu (sejenis alat tradisional untuk menangkap ikan) di gorong-gorong saluran tempat air deras lewat, dan ketika memeriksanya esoknya.. maka kita bisa menemukan ikan gabus, ikan mujair, ikan sepat, ikan betok, dan bahkan beberapa macam ular… ini dia bentuk bubu yang kumaksud :

Pernah juga merasakan mengejar burung puyuh yang terbang rendah di bekas persawahan, mengobrak abrik setiap rumput berharap mendapatkan 1 butir telurnya, atau menyusuri lubang-lubang yang biasa di lalui bebek di tengah rumput-rumput setinggi 1 meter untuk mencari telurnya yang kececer. Asli seru banget meski tangan terasa perih tergores pinggiran daun rumput yang tajam.

Dan hari hujan adalah hari yang sangat di tunggu-tunggu, ketika air mengalir deras di sela-sela saluran air di persawahan, dan dengan sigap, aku, adik-adikku dan teman-teman yang lain berlomba membuat bendungan dari gumpalan lumpur yang di tumpuk, dan pulang ke rumah disambut kemarahan ibuku karena baju kami yang belepotan lumpur hingga ke muka.  Masih ingatkah engkau wahai ibu? Pasti beliau amat jengkel kepadaku saat kecilku… apalagi di saat aku membawa pulang rumput-rumput (yang menurutku aneh), mengeringkannya, memasangkan di dalam gelas, memandanginya setiap hari sambil bertanya-tanya.. sampai kapan rumput itu bertahan agar tidak membusuk. Atau ketika aku membawa pulang “hasil penggalian” ku di tengah sawah berupa cangkang-cangkang keong, cangkang kerang hijau yang saat itu masih banyak populasinya di dasar kali, memajangnya di kamar atau memasukkannya di stopless, merasa bahagia karena telah menemukan “harta karun” yang terpendam, hihi….. Atau membawa pulang beberapa kepik berwarna-warni, sambil memasukkannya ke dalam wadah beserta daun kecubung, berharap bisa memeliharanya, melihatnya berkembang biak, dan bertanya-tanya, kenapa setiap kepik memiliki warna yang berbeda? (aku berharap saat itu memiliki buku ensiklopedia :D). Atau bahkan beliau pasti akan marah, bila tau kalau aku dulu pernah memasukkan sebuah wadah berisi anak cacing dan tanah lembab ke kolong tempat tidur, mendiamkannya selama beberapa minggu, yang ketika aku periksa.. ternyata cacing itu sudah sebesar ibu jariku… whoaaa :O.

Rasa seru yang tak terlupakan ketika aku sering mengejar-ngejar kadal, menangkapnya, menunjukkannya ke teman-temanku, merasa se-akan-akan aku anak yang paling berani, hehe…. dan kemudian hobi itu terhenti karena se-ekor kadal buang air di tanganku (eakss, jijik! :p) atau malah mengejar-ngejar katak/kodok, berusaha menciumnya supaya kodok itu berubah jadi pangeran tampan yang bersedia menikahiku (huahaha, itu akibat kena racun dongeng-an tak bermanfaat dari anak-anak komplek) dan hobi ini pun terhenti ketika aku hendak menangkap katak hijau di belakang rumah, ternyata katak itu memiliki mata merah menyala yang sedang menatapku.  Takuutt… dan ternyata, ini dia penampakan katak itu :

Masih terasa serunya hingga sekarang, ketika aku dan kawan-kawanku memanjat pohon jambu mete yang batangnya 2x lebih besar dari ukuran badan kami, memetik dedaunannya dan menyulapnya menjadi baju, mahkota, dll, berperan bak ksatria yang sedang berperang  sambil menunggang kerbau yang biasa ditambatkan di bawah pohonnya, sedangkan mata kami sibuk mencari kutu-kutu di badan si kerbau ^^. Atau memetik bunga-bunga rumput (yang ternyata dandelion), merangkainya menjadi hiasan rambut yang indah. Masya Allah…

Dan memang, proses itu tidak berhenti begitu saja… masih terasa manis, ketika aku menginjak usia SMP, kemudian adikku dan kawan-kawannya mengajakku naik kereta pengangkut batu bara dari stasiun jombang ke pelabuhan merak kemudian pulang di tengah malam dengan wajah hitam cemong dan disambut kemarahan saudara-saudara ibuku (karena waktu itu aku menginap di tempat nenekku). Padahal, ketika kami naik kereta batubara yang kebetulan lewat di tengah pemukiman warga, tak jarang kami terkena lemparan sampah warga yang membuang sampah di sekitar rel atau kena timpukan kerikil anak-anak yang hobi melempari kereta api yang lewat (haddeeh, indonesiakuuu!), atau kami pun merasa tegang dan tiarap di antara batubara karena di beberapa stasiun ada pemeriksaan ‘penumpang gelap’ oleh para kru kereta api :p. Belum lagi kereta yang melewati hutan-hutan, persawahan yang gelap gulita hingga kami harus selalu memejamkan mata kami dan menyembunyikan wajah kami di tumpukan batu bara karena khawatir melihat ‘penampakan’…

Membaca Totto Chan benar-benar membuat aku menyadari, betapa indahnya masa-masa kecilku. Sahabatku, menganggap aku beruntung punya kisah-kisah unik seperti totto chan… padahal cap “anak kampung” sering bikin aku ga percaya diri… haddeh, memang benar istilah ” Apabila kau berharap dapat mengikuti  semua pendapat orang, maka ketahuilah, sesungguhnya engkau telah gila” ^^

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s