Peran Istri Terhadap Suami Mereka

Standard

Kita ini hanyalah manusia biasa… begitu pun suami kita, tidak ada yang sempurna.
Ketika para istri ingin difahami segala kekurangannya, maka suami pun memiliki hak yang sama.

Hubungan suami istri bukan hanya ada di atas kertas nikah, tetapi ada dalam ikatan batin.
Mereka ibarat pakaian, yang saling menutupi (aib-aib), yang saling memberi kehangatan dan saling melindungi.

Ketika suami kelelahan, maka para istri-lah yang membasuh peluhnya, memberinya minum dan menyiapkan bantal untuknya bersandar.

Ketika suami bersedih, maka para istri-lah yang menitikkan air mata.. berdoa untuk kebahagiaan suami mereka.

Ketika suami bergembira, maka para istri-lah yang wajahnya merona karena turut merasakan kegembiraan itu.

Ketika suami di rundung masalah, maka istri-lah yang menghiburnya, memberikan dukungan dan senantiasa menasehati suami untuk selalu bersabar dengan segala cobaan.

Ketika suami menampakkan kekurangan, maka istri yang bijak adalah yang menyembunyikan kekurangan-kekurangan suaminya, karena dengan mempertontonkan aib-aib suaminya berarti juga memperlihatkan aib-aibnya sendiri dan tidak pernah menceritakannya pada siapa pun, karena dengan membicarakannya pada orang lain, berarti kita telah menelanjangi diri kita sendiri.

Betapa menyedihkannya nasib seorang suami, yang ketika cobaan berat menimpanya, lalu sang istri malah menyalahkannya, tidak bisa menerima kenyataan dan menghujaninya dengan cercaan-cercaan, bahkan menjauhinya.

Mengumbar-umbar aib suami di hadapan sahabat-sahabatnya dan menjatuhkan martabatnya di hadapan mereka.

Maka seharusnya, ketika suami di hina dan di permalukan orang, muka para istri-lah yang pertama kali merah padam karena marah dan berjuang habis-habisan untuk melindungi kehormatan suami mereka.

Wahai para istri, fahamilah…
Ketika seorang suami marah terhadap istrinya, maka pastilah ada sebabnya… maka introspeksi-lah dirimu.
Kemarahannya hanya karena ia masih sayang dan perduli denganmu…
Ingin meluruskanmu pada jalan-jalan yang akan membawamu kepada kebahagiaan.
Lalu, apakah dirimu telah melakukan pembangkangan yang nyata terhadapnya?

Ketika suamimu tertimpa musibah, maka temani-lah dan hiburlah…
Sambil berkata : “Wahai suamiku, bagaimana pun keadaanmu saat ini dan saat yang akan datang, aku akan terus menemanimu dalam suka dan duka, dalam tangis dan tawa… karena kita adalah SATU.
Ketika kau terjatuh, maka kita akan berjuang bersama untuk bangkit kembali. Dan percayalah, bila saat itu tiba.. aku tidak akan pernah meninggalkanmu…
Ketika kau kembali bangkit, aku akan menemanimu terbang ke angkasa.. dan kita akan menikmati indahnya pemandangan bersama-sama…”

Cinta itu adalah ketika kita mencintai dan menginginkan kebahagiaan suami di atas kebahagiaan diri sendiri.
Karena bahagia tidak akan pernah tercapai bila kita berlari sendirian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s