Ini yang aku pikirkan tentang pendidikan anak-anakku….

Standard

Aku mungkin bukan praktisi pendidikan, yang faham tentang materi-materi dan kurikulum sekolah. Aku juga bukan praktisi Home-Schooling, yang terlihat begitu menggebu-gebu bicara tentang pendidikan anak, dan begitu yakin dengan arah minat bakat anak-anak mereka. Jujur saja, aku merasa kagum dengan sebagian orang yang sangat mengenal karakteristik anak-anak mereka dan terlihat begitu santai bila berbicara tentang cara mendidik anak-anak dengan cara mereka sendiri. Atau para orang tua yang bercerita tentang keberhasilan-keberhasilan mereka, dan cerita-cerita tentang anak mereka yang sudah mengetahui banyak kisah di buku-buku, banyak ilmu pengetahuan, bertambahnya perkembangan-perkembangan mereka, kisah-kisah cerdas anak-anak mereka yang inspiratif dan tentu saja sangat sesuai dengan kebutuhan dan keinginan anak-anak mereka.

Terus terang, aku kurang percaya diri bila berbicara tentang pendidikan :p (narasinya kalah hebat dengan para praktisi soalnya). Itulah sebabnya, aku jarang berbicara bila sudah menyentuh wilayah itu. Karena bagiku, bukan hanya minat anak yang penting di arahkan, tetapi pendoktrinan orang tua pun tidak kalah penting. Makanya, seringkali aku membiarkan anak-anakku mencari tahu sendiri minat mereka (untuk urusan dunia), membiarkan mereka bereksplorasi sebanyak-banyaknya, sedangkan aku, sibuk sendiri dengan pendoktrinan yang akan aku tanamkan.

Aku mungkin tipikal orang yang sangat senang membacakan buku-buku tentang kisah-kisah Nabi, Shahabat Nabi, Syurga, Neraka, orang-orang sholeh, dll dibandingkan membacakan buku tentang anatomi hewan. Aku juga senang mendisiplinkan mereka tentang Sholat dan Puasa (yang kadang aku lancarkan dengan ancaman kecil :p). Aku juga senang menperdengarkan mereka murottal tiap malam. Dan aku senang memperhatikan tatacara mereka sholat (Apakah sudah sesuai Sunnah Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam atau belum). Aku juga senang memperhatikan cara mereka berpakaian. Rajin mengingatkan anakku yang perempuan untuk berhijab rapi ketika keluar rumah, dan senang memendekkan celana anak laki-lakiku agar tidak melebihi mata kakinya. Bagiku itu merupakan suatu pendoktrinan penting (yang lebih aku pilih untuk aku fokuskan) dibandingkan dengan urusan dunia yang biasanya cukup hanya aku fasilitasi saja. Terlepas dari apakah anakku menyukai atau tidak dengan pendoktrinan ini (tentu saja aku pilih cara yang paling mereka sukai).

Memperbanyak mengajak mereka belajar ilmu syar’i lebih aku sukai daripada mengajak mereka ke kebon binatang atau ke museum (tempat yang tentu saja lebih mereka sukai), dimana mereka bisa bertemu dengan teman-teman sebaya dan berinteraksi dengan mereka. Kadangkala aku merasa bahagia melihat binar-binar iri mata mereka menceritakan tentang anak-anak lain yang hafalannya lebih banyak, shaumnya lebih lama, dsb.

Seperti awal Ramadhan tahun ini, sekolah mereka libur selama 4 hari. Subhanallah, betapa sulit aku mengajak mereka untuk istiqomah puasa, meski cuma sampai dzuhur. Intensitas keberadaan di rumah yang lebih lama, banyak makanan yang menggiurkan di kulkas, kurang kegiatan di luar rumah, membuat mereka cenderung rewel dan mudah lapar. Sulit rasanya mempertahankan mereka dari berbuka puasa sebelum waktunya. Namun, setelah mereka mulai aktif sekolah, anakku mulai memperpanjang waktu puasanya (Tadinya dzuhur, sekarang mulai berbuka jam 2 siang, dan katanya esok insya Allah mau buka puasa pas adzan Ashar). Bagiku hal itu merupakan perkembangan yang sangat menggembirakan.

Hal ini tidak terlepas dari peran teman-teman mereka di sekolah (yang bahkan ada yang puasa hingga maghrib full), hingga semangat anakku “terlecut” untuk menambah jam puasanya.

Alhamdulillah…. mereka tidak merasa bosan dan lelah dengan pendoktrinan yang aku tanamkan. Bisa jadi karena dari awal (ketika mereka masih sangat kecil) aku sudah membiasakannya dan mengarahkan pendidikan mereka ke arah agama.

Kadang-kadang mereka muroja’ah sendiri tanpa aku perintahkan, kadang-kadang mereka bergumam (yang ketika aku perhatikan ternyata) surat-surat pendek Alqur’an. Air mata rasanya mudah sekali menetes mendengarnya. Anak-anakku pun sebenarnya tidak secerdas anak-anak lain, hafalan mereka pun tidak melampaui anak-anak lain di sekolah mereka (yang sudah sampai juz 29) sedangkan anakku masih berkutat di juz 30. Tapi bagiku, usaha mereka sudah lebih dari cukup.

Untuk masalah pendidikan ilmu dunia, maka aku senang memberi mereka fasilitas sebanyak-banyaknya. Aku senang membelikan mereka buku-buku pengetahuan (meski mereka lebih senang membaca Wildan dan Tarjim (bonus dari majalah al-mawaddah). Aku memfasilitasi mereka dengan berbagai macam alat-alat kreativitas, alat-alat uji coba, alat-alat bereksplorasi, dll. Membiarkan mereka berkutat dengan fasilitas yang aku berikan (dan perkembangannya pun jarang aku pantau : p *contohnya : aku tidak pernah bertanya kepada mereka tentang sudah berapa jenis ikan paus yang sudah mereka ketahui, atau bentuk-bentuk aneh dari kertas origami yang sudah mereka buat). Meski biasanya mereka dengan senang hati memperlihatkannya padaku dan langsung berceloteh ketika kita browsing gambar binatang bersama-sama. Dan menurutku, meski anak-anakku tidak terlalu menonjol dalam ilmu pengetahuan semisal matematika atau sains, tapi mereka pun tidak terlalu bodoh.

Begitulah yang aku fikirkan tentang pendidikan anak-anakku, walau tidak sehebat ibu-ibu brilian lain dan anak-anakku tidak sehebat anak-anak brilian lain, tapi aku harap, langkah yang kupilih menjadi langkah yang benar untuk masa depan anak-anakku kelak.. ^^

About Ummu 'Aliyyah

Seorang ibu dari 3 buah hati lucu, Aliyyah (12), Muhammad (10), Ibrohim (7 thn) yang senang bereksplorasi dan berinovasi. Istri dari Bpk Wahid Kurniawan. Jika ada orang yang bisa, maka kita pun bisa, insya Allah...

2 responses »

  1. Bismillah, tampaknya yg kita pikirkn serupa, Umm. sayangnya, ana tdk seperhatian anti thd perkembangan anak… smg blog ini mampu menambah lecut smangat u smakin me+ perhatian kpd si kecil. jazakillah khoyr ats tulisannya. salam dr kami di kota bayuangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s