Belajar Bertani

Standard

3 Bulan yang lalu, ketika jalan-jalan ke toko pot bunga dan aneka pupuk depan rumah ibu saya di Ciledug, saya mendapatkan beberapa macam benih. Ada daun bawang, seledri, caisim dan bunga matahari. Senang rasanya. Engga sabar pengen cepat di tanam di belakang rumah kontrakan di Bekasi. Rencananya sih buat coba-coba bikin sayuran organik untuk dikonsumsi sendiri, kecuali bunga matahari-nya lho.

Alhamdulillah, akhirnya bisa juga menanam 4 jenis tanaman tersebut di 4 pot berbeda. Dan Alhamdulillah juga, yang pertama kali tumbuh adalah pohon caisim dan seledri-nya. Tapi qadarullah, baru seminggu benihnya tumbuh dan sudah berukuran 1 cm, tiba-tiba aja ada hama yang memakan semua tanaman sampai tak tersisa. Sedih sekali. Padahal udah kadung gembira banget ngeliatnya. Sedangkan tanaman yang lain (entah kenapa) juga males tumbuh.

Tapi saya engga menyerah begitu aja. 1 bulan kemudian, saya mencoba menanam keempat pohon tersebut kembali. Kali ini memakai teknik menutupnya dengan sebuah plastik (teknik yang biasa dipakai bapak saya dulu ketika menanam bibit tanaman hias). 1o hari berlalu, pohon-pohon tersebut tidak kunjung tumbuh juga. Saya sangat terpukul dan kecewa (terlalu di dramatisir ga sih? :P). Aneh, koq lebih sukses yang pertama yaks… hayyahhh…

Tapi saya tetep engga menyerah juga (semangatttt!!). Setelah positif dan pasrah dengan percobaan bertani yang kedua gagal, saya pun menggemburkan tanah kembali dan mencoba untuk menanam untuk yang ketiga kalinya. Tentu aja dengan menabur lebih banyak benih dengan harapan peluang tumbuhnya akan lebih besar. Alhamdulillah… Akhirnya dari sekian puluh benih yang ditanam, tumbuh juga pohon caisim dan seledrinya (kalo daun bawang dan bunga matahari ga usah ditanya-in, dari pertama di tanam pun engga ada yang tumbuh, jadi udah pesimis pada percobaan yang ketiga ini pasti tetep engga ada yang mau tumbuh). Meski cuma satu-dua batang yang tumbuh dari sekian benih yang ditanam, tapi  Alhamdulillah masih ada yang tidak menyerah meskipun kayaknya pohon itu “sakit”😛.

Satu yang saya heran, kenapa menanam benih bisa sesusah itu yah? padahal kalo ngeliat si Abi ngoprek-ngoprek tanaman hiasnya koq kayaknya cepet banget gedenya. Dan engga usah di tanya kemahiran bapak saya bertani tanaman hias, pohon yang udah mati-pun bisa tumbuh subur kalo udah disentuh dengan “tangan dinginnya”. Duh bapak, kenapa engga diturunkan keahlianmu itu ke anakmu ini… setidaknya anakmu tidak akan se-stress ini sekedar menanam pohon sayuran. hiks….

Kalo ada istilah mati satu tumbuh seribu, mungkin saat ini saya cuma bisa bilang : “Tanam seribu tumbuhnya satu”. *sedih..

Ini nih caisim-nya :

Yang ini seledrinya :

5 responses »

  1. dari pengalaman diatas, bisa disimpulkan org blajar butuh proses yg paaaaaanjang n laaamaaa, baik mengenai materi(pengetahuan) nd praktek ;)) trus klo bisa blajar ma ahlinya biar gak kecele heeee……..

  2. ngomong2 soal taneman klo suka mending tingal di daerah gunung ja mba, kan bagus tuh untuk pertumbuhan tanaman, kaga da polusi udara heeeeee, klo ya…..ntar aku ajak ke Tasikmalaya hiiiii, aku mo nyoba jualan ikan disana, gak nyambung neh, aku dukung mba Li2s berco2ktanam, aku sendiri loncat ke bidang perikanan hihihi

  3. wkwkwkwkwkwk……….Anda salah, Ntu cita2 aq mbae klo py rezeki pengen py lahan disana, klo dah tua pengen tinggal dikampung ja ah……🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s