Yang telah pergi…

Standard

Baru beberapa hari beliau tutup usia, rasanya seperti masih ada di dunia ini. Masih terbayang, ketika beliau tergeletak lemah di atas tempat tidurnya, sambil terus berdzikir dan berdo’a dan kadang tersenyum lirih melihat cucu-cucunya berlari kesana kemari mengelilinginya. Masih teringat, ketika beliau serius mendengarkan ceramah atau membaca buku-buku pengobatan sambil rebahan karena tidak sanggup duduk terlalu lama. Masih terngiang, rintihan beliau menahan sakit di perutnya yang mengalami asites akibat menjalarnya akar-akar kanker yang menggerogoti rahimnya.. betapa tabahnya dirimu wahai ibu…

Beliau seperti ibu kedua bagiku, sulit rasanya melepas kepergian beliau. Mengingat jasa-jasa beliau yang begitu besar dalam mendidik anak-anaknya hingga seperti sekarang (contohnya suamiku)… aku yakin di balik sosok orang yang kukagumi selama ini, ada peran ibu yang begitu besar di belakangnya.

3 tahun yang lalu, sebulan sebelum putri tunggalnya menikah, beliau didiagnosa oleh dokter mengidap tumor rahim dan harus segera di operasi. Pilihan yang berat untuknya, karena ketika itu beliau harus memilih antara kesehatan dirinya dan pernikahan putrinya. Tapi apa daya, pilihan operasi memang harus diutamakan, karena ternyata tumor itu telah berukuran besar (dan menyesakkan jalan pernafasannya) dan harus segera di buang.

Saat itu dokter berkata, pendeteksian apakah tumor itu jinak atau ganas adalah ketika tumor telah dikeluarkan dari tubuh pasien. Dan memang, ketika aku membaca beberapa artikel di internet, tumor harus dikeluarkan dahulu, dibekukan lalu di belah untuk mengetahui apakah jaringan yang di dalamnya itu termasuk tumor jinak atau ganas. Qadarullah, hasil positif bahwa tumor seberat 3 kg lebih yang diidap beliau adalah tumor ganas alias kanker endiometriosis..

Sebulan pasca operasi dan dalam proses penyembuhan, beliau mengalami asites (yaitu mengalami pembengkakan di bagian perut yang berisi cairan protein). Dengan sangat terpaksa, beliau harus lebih lama berdiam di Rumah Sakit dan tidak bisa menghadiri prosesi pernikahan putri tunggalnya. Sekali lagi, pilihan yang teramat berat bagi beliau. Bisa kubayangkan, betapa sedihnya beliau…

Kanker adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti setiap orang… entahlah apakah benar sudah ada obat penyembuhnya atau belum, tapi melihat berbagai kasus, sepertinya harapan itu masih teramat kecil. Sebagian besar obat-obatan modern yang ditawarkan di Rumah Sakit hanyalah memperpanjang usia si pasien, tapi tidak pernah bisa menyembuhkan secara total.

Ketika itu pun, beliau ditawari untuk melakukan kemoterapi 5 kali, tetapi beliau menolak. Terus terang, kata beliau, rumah sakit adalah tempat yang paling mengerikan yang tak ingin beliau kunjungi lagi. Beliau menjalani perawatan di rumah dan berharap bisa sembuh tanpa menjalani kemo. Tapi memang sudah garisan cobaanmu wahai ibu, asites itu semakin memenuhi ruang perutmu dan menyesakkan rongga dadamu, maka pilihan kemo pun harus tetap dilakukan.

Menunda kemoterapi untuk beberapa minggu ternyata berakibat dosis kemo harus di tambah beberapa kali lagi. Dokter pun menyarankan untuk melakukan kemo sebanyak 7 kali. Dan, engkau pun dengan sabar bolak-balik Rumah Sakit, melakukan perawatan dan kemoterapi, serta pemeriksaan-pemeriksaan penunjang lain semisal pemeriksaan darah, ct-scan, tumor marker ca-125 (kalau tidak salah).. betapa lelahnya engkau saat itu wahai ibu…

Alhamdulillah, perjuanganmu tidak sia-sia wahai ibu… beliau pun sembuh dan sehat kembali, meskipun sering mengalami mual-mual dan kerontokan rambut akibat kemoterapi yang beliau jalani. Wajah beliau yang dulu runcing, kini kembali berisi. Badan beliau yang dulu kurus kering, kini kembali berdaging. Semua anggota keluarga sumringah melihat beliau sudah bisa berjalan, makan dengan lahap dan bersantai bersama keluarga di rumah dengan senyumnya yang merekah…

Tapi itu tidak berlangsung lama, satu tahun kemudian, menjelang bulan puasa… beliau mengeluhkan perut beliau yang kini terasa berbeda. Dan, cobaan itu pun kembali menghampirimu… wahai ibu, tabahkanlah hatimu…

Sebulan kemudian, perutnya kembali membesar… tapi beliau kekeuh tak ingin ke Rumah Sakit. Pihak keluarga pun mencoba berbagai jalan alternatif, herbal, ramuan tradisional ala sinsei dll… ah, ibu… perjuanganmu ternyata belum selesai. Tak kunjung kesembuhan, kembali beliau harus disibukkan kembali mondar-mandir Rumah Sakit untuk melakukan berbagai macam pemeriksaan… dokter pun menyarankan untuk melakukan kemoterapi kembali.. entah 5 atau 6 kali lagi.
Beliau pun akhirnya menjalani 3 kali kemo… dan tidak melengkapi sisanya lantaran biaya kemo yang cukup mahal. Betapa sabarnya engkau ketika itu wahai ibu… tak pernah dirimu menuntut lebih dan dirimu hanya memasrahkan diri kepada Allah, memang benar, hanya Allah-lah yang sanggup menyembuhkan

Pasca 3 kali kemo, engkau pun berangsur-angsur pulih dan memilih mengkonsumsi herba. Alhamdulillah, semua pihak keluarga bernafas lega…

Saat itu, kami (saya, suami dan anak-anak) memutuskan untuk pindah ke Bekasi, karena anak kami yang pertama hendak bersekolah di sana. Bukannya kami ingin meninggalkanmu wahai ibu, tapi semua ini demi masa depan anak-anak kami, cucumu juga… dan ketika kami meninggalkanmu, yang kami lihat engkau dalam keadaan sehat wal afiat dan tak ada keluhan..

Kemudian, sebulan setelah kepindahan kami… engkau menelepon, memberitahu bahwa penyakit itu kembali lagi menyerangmu. Ibu, betapa kami mengalami dilema yang besar saat itu… di antara kebingungan dan penyesalan, karena saat itu kami pun harus memilih antara masa depan anak-anak kami dan menemanimu sebagai wujud bakti kami.

Betapa saya ingin menemani beliau saat itu, saat-saat terakhir dalam kehidupan beliau. Mendengarkan beliau bercerita masa-masa muda beliau, masa-masa kecil suami saya dan saudara-saudaranya, atau sekedar selingan curhatan ringan. Betapa beliau banyak mengajarkan saya akan makna kesabaran dalam menjalani cobaan dalam hidup. Betapa beliau begitu banyak memberikan saya wejangan berharga tentang menjalankan rumah tangga ideal. Betapa beliau begitu sering mengingatkan saya untuk menjaga anak-anak dan suami saya dengan baik… wahai ibu, betapa rinduku mendengar suara mu…

Hingga kami mendengar berita buruk itu 5 bulan setelah kepindahan kami, dan berita buruk itu bukan berasal dari suaramu, melainkan orang lain…

Mungkin Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak mencukupkan cobaanmu dan telah meridhoimu wahai ibu…
Mudah-mudahan engkau di terima di sisi-Nya, diampuni segala dosa-dosamu, diterima semua amal baikmu, dan semoga kesabaranmu dalam menghadapi cobaan menjadi tabungan amalan baikmu di akhirat kelak… ya Allah masukkanlah beliau ke dalam surga-Mu… amin…

dedicated to : Ibu Hj.Supriyati rahimahullah, ibunda suamiku tercinta….

About Ummu 'Aliyyah

Seorang ibu dari 3 buah hati lucu, Aliyyah (12), Muhammad (10), Ibrohim (7 thn) yang senang bereksplorasi dan berinovasi. Istri dari Bpk Wahid Kurniawan. Jika ada orang yang bisa, maka kita pun bisa, insya Allah...

3 responses »

  1. Turut berduka cita atas meninggalnya ibunda tercinta…semoga segala dosa-dosanya di ampuni oleh Allah SWT serta segala amalannya diterima oleh Allah SWT.

    Untuk keluarga yang di tinggalkan dapat diberikan ketabahan dan keikhlasan untuk menghadapinya…

  2. Innalillahi wa inna ilahi roojiuun…
    Sabar yah mbak…

    Semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni dosa-dosa Beliau, melapangkan kuburnya dan memberi Beliau nikmat surga-Nya kelak Aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s